PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Imbauan Kapolres Parigi Moutong (Parimo) terkait pelaksanaan takbiran jelang Idulfitri 1447 Hijriah menuai polemik. Front Amar Ma’ruf Nahi Munkar menilai imbauan tersebut berpotensi menimbulkan tafsir diskriminatif dan kecemburuan sosial di tengah masyarakat.
Kapolres Parigi Moutong, Hendrawan Agustian Nugraha, sebelumnya mengimbau masyarakat untuk melaksanakan takbiran dengan memperbanyak doa dan dzikir di masjid, serta menghindari konvoi kendaraan, penggunaan knalpot brong, petasan, hingga pesta minuman keras dan narkoba.
Di sisi lain, kepolisian juga mengatur pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dalam rangka Tahun Baru Caka 1948 yang digelar di ruas Jalan Trans Sulawesi wilayah Sausu hingga Parigi. Hal ini kemudian menjadi sorotan sejumlah pihak karena dinilai menimbulkan perbedaan perlakuan terhadap kegiatan keagamaan.
Ketua Front Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Nadjmudin Toampo, menilai imbauan tersebut meski tidak bersifat larangan, tetap memicu beragam tafsir di tengah masyarakat.
“Imbauan itu memang bukan larangan, tetapi menimbulkan kecemburuan sosial dan reaksi publik dengan multi tafsir,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Ia menegaskan, jika kegiatan ogoh-ogoh dapat dilaksanakan secara meriah di jalan raya, maka takbiran keliling seharusnya juga mendapat ruang yang sama.
“Kalau pawai ogoh-ogoh bisa digelar di jalan raya, kenapa takbiran dihimbau tidak konvoi?” tegasnya.
Menurutnya, pelaksanaan takbiran keliling selama ini merupakan agenda Panitia Hari Besar Islam (PHBI) yang berjalan terkoordinasi dengan aparat kepolisian, serta tidak pernah menimbulkan gangguan kamtibmas yang signifikan di wilayah Parigi Moutong.
Pernyataan tersebut pun memicu beragam respons di masyarakat. Sebagian mendukung langkah kepolisian demi menjaga ketertiban, sementara lainnya menilai perlu adanya kesetaraan dalam kebijakan terhadap seluruh kegiatan keagamaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Parigi Moutong belum memberikan tanggapan resmi lanjutan atas kritik yang disampaikan.
Di akhir pernyataannya, Nadjmudin berharap momentum Idulfitri tetap menjadi ruang memperkuat persatuan dengan mengedepankan toleransi dan keadilan sosial.
“Perbedaan pandangan jangan sampai memecah kebersamaan, justru harus menjadi penguat persatuan di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho











