PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Kebakaran hutan dan lahan di Desa Bondoyong, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), terus meluas hingga Jumat malam, 23 Januari 2026. Api yang mulai berkobar sejak pukul 08.00 Wita itu belum berhasil dikendalikan hingga pukul 19.40 Wita, di tengah kondisi angin kencang dan keterbatasan penanganan di tingkat lokal.
“Angin sangat kencang, jadi api cepat sekali menjalar dan sampai malam justru makin besar,” kata Yusuf, warga Desa Bondoyong, Jumat malam.
Ia menilai lambannya penanganan tidak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga lemahnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menyediakan sarana penanggulangan kebakaran. Hingga malam hari, menurut dia, belum ada upaya pemadaman dari instansi terkait.
“Kami masyarakat bingung mau lakukan apa. Lokasinya tinggi dan tidak mungkin dipadamkan dengan alat seadanya,” ujarnya.
Kondisi itu diperparah dengan ketiadaan fasilitas pemadam kebakaran di wilayah tersebut. Desa Bondoyong tidak memiliki sarana pemadaman, sementara pos pemadam kebakaran juga tidak tersedia di Kecamatan Sidoan, Tinombo, maupun Tinombo Selatan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai pemerataan layanan dasar penanggulangan bencana di wilayah pesisir utara Parigi Moutong.
Api yang terus menjalar kini dilaporkan telah mendekati permukiman warga serta rumah ibadah. Warga khawatir kebakaran akan berdampak langsung pada keselamatan masyarakat jika tidak segera ditangani secara terkoordinasi.
Warga berharap pemerintah daerah, BPBD, dan instansi terkait segera turun ke lokasi dengan peralatan memadai serta menyusun langkah kebijakan jangka panjang, termasuk penyediaan pos dan armada pemadam di wilayah rawan kebakaran.
“Kalau fasilitas dan kesiapsiagaan ada sejak awal, mungkin kebakaran tidak sebesar ini,” pungkas Yusuf.
Laporan: Tommy Noho









