PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Tambal sulam Jalan Trans Sulawesi Ruas II Toboli-Tinombo di Desa Baina’a Selatan, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), justru menyisakan tanda tanya. Alih-alih membuat permukaan jalan lebih nyaman, hasil pekerjaan di sejumlah titik terlihat bergelombang dan dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Pantauan media ini pada 23 September 2026 menemukan, material aspal tampak dihampar dan menumpuk pada badan jalan. Hasilnya bukan permukaan yang kembali mulus, tetapi jalan yang terlihat tidak rata.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena pekerjaan pemeliharaan jalan semestinya mengembalikan fungsi dan kenyamanan ruas jalan. Namun, jika hasil tambal sulam justru membuat permukaan bergelombang, kualitas pekerjaan patut dipertanyakan.
Material aspal di sejumlah titik juga terlihat sulit dipadatkan dan tidak menyatu dengan sempurna. Kondisi itu diduga berkaitan dengan temperatur campuran aspal saat tiba di lokasi maupun proses penghamparannya. Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis oleh pihak berwenang.
Persoalan jarak pengangkutan material juga menjadi perhatian. Berdasarkan informasi yang dihimpun, jarak tempuh menuju lokasi pekerjaan sekitar 195 kilometer dengan waktu perjalanan berkisar 4,5 hingga 5 jam.
Jarak dan waktu tempuh tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan menggunakan campuran aspal panas (Hot Mix). Temperatur material harus tetap berada dalam kondisi yang dipersyaratkan ketika tiba dan dihamparkan agar proses pemadatan dapat berlangsung sebagaimana mestinya.
Diketahui, proyek Preservasi/Pemeliharaan Jalan Ruas Tinombo-Sinei-Ampibabo-Toboli tahun 2026 dilaksanakan oleh PT Sapta Unggul. Pekerjaan tersebut merupakan bagian dari pemeliharaan jalan nasional di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng).
Namun, fakta di lapangan memunculkan pertanyaan sederhana, apakah hasil pekerjaan tersebut sudah sesuai standar teknis dan benar-benar memberikan manfaat bagi pengguna jalan?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sebab, jalan yang seharusnya diperbaiki untuk meningkatkan keamanan justru terlihat menyisakan permukaan yang tidak rata. Kondisi seperti ini tentu menjadi perhatian bagi pengendara yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Kandar, warga Sidoan, menilai pekerjaan pemeliharaan jalan semestinya tidak sekadar mengejar selesainya pekerjaan, tetapi harus memastikan hasil akhirnya benar-benar aman dan nyaman digunakan masyarakat.
“Kalau model pekerjaannya seperti ini, bukan rasa nyaman yang didapat, tetapi justru bisa melahirkan musibah,” katanya.
Ia juga mempertanyakan pengawasan terhadap pekerjaan tersebut. Menurutnya, pekerjaan di jalan nasional tidak semestinya luput dari perhatian instansi yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan.
“Proyek tambal sulam jalan tersebut seakan luput dari pengawasan BPJN Sulawesi Tengah,” ujarnya.
Kritik serupa datang dari pengendara yang meminta pekerjaan tidak dilakukan sekadar untuk menutup lubang atau mengejar target penyelesaian. Sebab, kualitas pekerjaan akan langsung bersentuhan dengan keselamatan masyarakat yang menggunakan jalan tersebut.
“Pekerjaan jalan jangan sekadar asal selesai. Kalau hasilnya bergelombang, pengendara juga yang menanggung risikonya,” kata seorang pengendara.
Warga pun meminta pihak pelaksana bersama instansi terkait tidak menutup mata terhadap kondisi hasil pekerjaan. Evaluasi teknis diperlukan untuk memastikan apakah pekerjaan tersebut telah memenuhi spesifikasi dan standar yang dipersyaratkan.
“jalan nasional bukan sekadar hamparan aspal. Di atasnya ada keselamatan ribuan pengguna jalan yang setiap hari melintas,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho









