SMA Negeri Tinombo Perjuangkan Rehabilitasi Rumah Guru yang Memprihatinkan

oleh -30 Dilihat
oleh
Kepala SMA Negeri 1 Tinombo, Suryani, saat membacakan sambutan dalam kegiatan HUT SMA Negeri 1 Tinombo. Foto: Iskandar
Kepala SMA Negeri 1 Tinombo, Suryani, saat membacakan sambutan dalam kegiatan HUT SMA Negeri 1 Tinombo. Foto: Iskandar

PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Kondisi perumahan guru SMA Negeri 1 Tinombo yang telah berusia puluhan tahun menjadi salah satu persoalan yang masih diperjuangkan pihak sekolah. Bangunan yang kondisinya memprihatinkan itu diharapkan mendapat penanganan melalui program revitalisasi dan rehabilitasi.

SMA Negeri 1 Tinombo merupakan salah satu lembaga pendidikan yang telah berdiri sejak 1965. Sekolah yang berada di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), tersebut telah melahirkan berbagai prestasi dan menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan di wilayah tersebut.

Sejumlah tokoh pendidikan, pejabat pemerintahan, alumni, guru, wali murid, dan siswa hadir dalam kegiatan HUT sekolah SMAN 1 Tinombo Senin (28/09/2026) yang turut membahas berbagai perkembangan dan tantangan pendidikan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Pembinaan SMA yang diwakili Hartian Jualingalo, S.Pd., M.Si., Sekcam Tinombo, unsur pimpinan Kecamatan Jari, Ketua Pengawas Madrasah Kabupaten Parigi Moutong, Kepala Seksi Program Kecamatan Tinombo, Ketua Komite SMA Negeri 1 Tinombo, para mantan pejabat dan kepala sekolah, Ketua Ikatan Alumni, kepala sekolah SD dan SMP se-Kecamatan Tinombo, kepala desa, Ketua PGRI Kecamatan Tinombo, guru purna bakti, alumni, dewan guru, wali murid, dan seluruh siswa.

Kepala SMA Negeri 1 Tinombo, Suryani, S.Pd., M.Pd., mengatakan nama besar sekolah tersebut telah dibangun oleh para pendahulu dan harus terus dijaga oleh generasi penerus.

“Jika kita belum mampu mengharumkan nama sekolah di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional, maka hal paling sederhana dan wajib kita lakukan adalah menjaga nama baik SMA Negeri 1 Tinombo di mana pun kita berada,” tegas Suryani.

Baca Juga:  Pra Musrenbang Perkuat Strategi Percepatan Penurunan Stunting Parimo

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik. Pembentukan moral, etika, karakter, dan kepribadian siswa juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Ia menekankan, keberhasilan pendidikan membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Untuk memperkuat keterlibatan orang tua, sekolah telah membentuk paguyuban wali murid dan membangun komunikasi secara rutin terkait perkembangan siswa, baik prestasi maupun kedisiplinan.

“Kami telah membentuk paguyuban wali murid untuk membangun sinergi dan rutin melaporkan perkembangan anak-anak, mulai dari prestasi hingga kedisiplinan lewat grup komunikasi yang telah dibangun,” ungkapnya.

Sinergi tersebut turut mendukung capaian sekolah yang pada tahun ajaran ini menjadi salah satu penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja Prestasi. Bantuan tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah pusat terhadap sekolah yang dinilai memiliki capaian dalam pengelolaan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Namun, di tengah capaian tersebut, persoalan perumahan guru masih menjadi perhatian utama. Bangunan yang merupakan aset sekolah itu disebut telah berusia sekitar 42 tahun dan kondisinya cukup memprihatinkan.

Sebagian lantai bangunan masih menggunakan papan kayu. Kondisi tersebut bahkan pernah dijadikan contoh materi tentang permukiman kumuh dalam pembelajaran Geografi sekitar satu dekade lalu. Bangunan itu juga kerap disalahartikan masyarakat sebagai tempat kos.

Baca Juga:  Pemda Parigi Moutong Serahkan SK Pengangkatan ke 99 PNS Formasi 2021

Pihak sekolah telah mengajukan permohonan rehabilitasi kepada Kementerian Pendidikan dan berkoordinasi dengan Dinas PUPR. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala pada aspek teknis dan pembiayaan. Bangunan perumahan guru yang telah berusia sekitar 42 tahun disebut mendekati batas usia bangunan yang dalam ketentuan teknis dapat masuk kategori pemusnahan, bukan rehabilitasi.

Di sisi lain, skema revitalisasi yang tersedia tidak memungkinkan pembangunan kembali perumahan guru secara baru, kecuali untuk sekolah yang berada di wilayah kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terpencil). Karena SMA Negeri 1 Tinombo tidak termasuk dalam kategori tersebut, pihak sekolah khawatir apabila bangunan lama harus dimusnahkan, tidak tersedia pengganti berupa pembangunan rumah dinas baru.

“Kami berusaha sekuat tenaga agar bangunan ini tidak dimusnahkan. Pasalnya, aturan revitalisasi tidak membiayai pembangunan baru perumahan guru kecuali di daerah kategori 3T. Kita tidak masuk kategori itu. Artinya, kalau bangunan ini hilang, selamanya kami tidak akan punya rumah dinas lagi,” jelas Kepala SMA Negeri 1 Tinombo, Suryani.

Selain persoalan ketentuan teknis, keterbatasan anggaran juga menjadi kendala. Dana revitalisasi yang tersedia dinilai belum mencukupi untuk melakukan perbaikan menyeluruh, termasuk penguatan struktur dan penggantian bagian bangunan yang sudah rusak. Pihak kementerian, menurut sekolah, telah menyampaikan bahwa penanganan akan dilakukan secara bertahap.

“Kami berusaha sekuat tenaga agar bangunan ini tidak dimusnahkan. Pasalnya, aturan revitalisasi tidak membiayai pembangunan baru perumahan guru kecuali di daerah kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, Terpencil),” jelas Suryani.

Baca Juga:  Dibangun Dua Tahun Lalu 25 Unit Huntara di Torue Terbengkalai

Menurutnya, apabila bangunan tersebut dihapus tanpa adanya pengganti, sekolah dikhawatirkan tidak lagi memiliki rumah dinas bagi guru. Saat ini, para guru masih bertahan menempati bangunan tersebut meski dengan fasilitas yang terbatas.

Pihak kementerian, kata Suryani, telah menyampaikan bahwa penanganan terhadap bangunan tersebut akan dilakukan secara bertahap.

Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan mengenai pergantian generasi tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Tinombo. Tahun ini, sekolah melepas masa pengabdian Dra. Hajjah Masdia yang memasuki masa purnabakti.

Masdia merupakan salah satu guru senior yang memiliki hubungan khusus dengan Suryani karena pernah menjadi gurunya ketika masih bersekolah.

Pergantian tenaga pendidik senior akan berlanjut secara bertahap. Pada 1 November 2026, Bapak Suharto, S.Pd., guru Bahasa Indonesia, akan memasuki masa purnabakti. Selanjutnya, 1 Januari 2027 Dra. Yusri Usman, dan 1 Februari 2027 Bapak Pujianto, S.Pd.

Suryani mengatakan, para guru senior telah memberikan kontribusi besar dalam membangun sekolah dan menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan di SMA Negeri 1 Tinombo.

“Satu per satu para senior dan pendiri sekolah ini akan melangkah ke masa purnabakti. Tinggallah kami sebagai penerus tongkat estafet. Pengabdian dan ilmu Bapak Ibu sekalian adalah fondasi yang tak ternilai bagi kami untuk terus menjaga dan memajukan SMA Negeri 1 Tinombo ke masa depan,” pungkasnya.

Laporan: Iskandar Miu