PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Pemerintah Desa Towera, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), tancap gas menggarap program ketahanan pangan. Kepala Desa Towera, Muhammad Rafiin Labaso, mengontrak lahan warga hingga lima hektare untuk kebun jagung yang dikelola BUMDes. Anggaran digelontorkan Rp160 juta, dengan fokus penuh pada komoditas jagung sepanjang 2025.
Muhammad Rafiin Labaso menegaskan, kebijakan ini menjadi prioritas utama desa dalam menjaga pasokan dan perputaran ekonomi warga.
“Untuk ketahanan pangan, kebun jagung itu sekitar lima hektare, lahan masyarakat yang dikontrak oleh BUMDes,” ujar Rafiin.
Ia memastikan, pada 2025 mendatang luas tanam akan bertambah. Selain lahan kontrak milik warga, desa juga memiliki aset tanah bandesa (bandes) yang bisa dimanfaatkan.
“Kalau tahun 2025 sekitar lima hektare, tahun ini akan lebih karena ada juga lahan desa bandesa yang bisa digunakan untuk tanam jagung. Bandes punya sekitar dua hektare lebih, tapi ada tanaman lain seperti kelapa. Tanah itu sudah puluhan tahun masih diolah kades-kades sebelumnya,” jelasnya.
Dari sisi anggaran, Rafiin membeberkan total Dana Desa Towera 2025 mencapai lebih dari Rp800 juta. Namun, tersisa sekitar Rp299 juta setelah penyesuaian regulasi.
“Untuk anggaran dana desa Towera tahun 2025 masih Rp800 juta lebih. Tahun ini sisa Rp299 juta karena PMK 81, sehingga belum tahu berapa yang harus dialihkan ke BUMDes karena dasarnya dana yang tersedia itu porsinya terbagi-bagi. Ada untuk kesehatan, ketahanan pangan. Syukurnya untuk infrastruktur tidak ada,” tegasnya.
Fokus tunggal pada jagung menjadi strategi jangka pendek Pemerintah Desa Towera. Dengan tambahan lahan dan penguatan modal BUMDes, pemerintah desa berharap produksi meningkat dan berdampak langsung pada pendapatan masyarakat.
Laporan: Basrul Idrus









