PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Keluhan keluarga pasien soal belum adanya mushola di RSUD Raja Tombolotutu, Tinombo, Parigi Moutong (Parimo), mendapat respons serius pihak rumah sakit. Fasilitas ibadah dinilai mendesak, terutama bagi keluarga yang menjaga pasien dan membutuhkan tempat berdoa selama masa perawatan.
Syarif, salah satu keluarga pasien, menegaskan kebutuhan mushola bukan hanya terasa saat Ramadan, tetapi setiap hari, terutama bagi keluarga yang mendampingi pasien dalam kondisi sakit.
“Kami tidak hanya berjaga, tapi juga butuh doa untuk keluarga yang sedang dirawat. Karena itu, fasilitas untuk menjalankan ibadah sangat penting,” kata Syarif kepada media ini.
Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Raja Tombolotutu melalui Kepala Bidang Keperawatan, Anwar, mengakui bahwa pembangunan mushola memang sudah diusulkan, namun hingga kini belum terealisasi.
Menurutnya, usulan pembangunan mushola telah dibahas dalam musrenbang dan diajukan baik di tingkat kecamatan maupun dalam dokumen perencanaan anggaran rumah sakit.
“Kemarin kami sudah musrenbang dan sudah mengusulkan di kecamatan serta di DPA rumah sakit, tapi belum terealisasi. Tahun ini kami juga belum tahu apakah sudah dianggarkan atau belum. Usulan itu juga sudah pernah disampaikan ke direktur sebelumnya,” ujar Anwar.
Ia menambahkan, keberadaan mushola sangat dibutuhkan sebagai fasilitas penunjang bagi pasien, keluarga, maupun pegawai rumah sakit.
“Memang ini salah satu penunjang bagi semua yang datang berobat, baik pasien maupun pegawai. Kita lihat sendiri mayoritas pengunjung di sini muslim. Rumah sakitnya sudah besar, tapi musholanya belum ada, sehingga kami terus berupaya agar bisa dibangun,” jelasnya.
Pihak RSUD berharap usulan tersebut dapat segera mendapat kepastian anggaran sehingga kebutuhan fasilitas ibadah di lingkungan rumah sakit bisa terpenuhi.
Laporan: Iskandar Miu











