Batik Saga Parimo Kantongi HKI di HUT RI

oleh -66 Dilihat
oleh
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Parigi Moutong, Hj. Hestiwati Nanga, saat menyampaikan keterangan terkait penerimaan HKI motif Batik Saga dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Foto: Tommy Noho.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Parigi Moutong, Hj. Hestiwati Nanga, saat menyampaikan keterangan terkait penerimaan HKI motif Batik Saga dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Foto: Tommy Noho.

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi catatan penting bagi pengembangan Batik Saga. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Hj. Hestiwati Nanga, S.KM., M.Kes., menerima Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa paten atas motif Batik Saga sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya dan produk unggulan daerah.

Penerimaan HKI tersebut menjadi momentum istimewa di tengah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Legalitas atas motif Batik Saga diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan batik khas daerah agar semakin dikenal, tidak hanya di Sulawesi Tengah (Sulteng), tetapi juga mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Hestiwati mengatakan, penerimaan HKI memberikan kepastian hukum terhadap motif Batik Saga yang dikembangkan sekaligus membuka peluang lebih besar untuk menjadikannya sebagai ciri khas daerah.

Baca Juga:  Produksi Beras Parigi Moutong Diharap Mampu Kendalikan Inflasi Sulteng

“Kita sudah menerima HKI dari Kementerian Hukum dan HAM terkait dengan paten motif. Mudah-mudahan dengan diberikannya HKI sebagai legalitas, Batik Saga ini menjadi ciri khas Parigi Moutong dan motif batik kita dikenal sampai tingkat nasional maupun internasional,” ujar Hestiwati.

Menurutnya, legalitas tersebut harus diikuti dengan penguatan sumber daya manusia dan kemampuan produksi di daerah. Sebab, keberadaan HKI tidak akan maksimal apabila masyarakat belum memiliki keterampilan serta fasilitas yang memadai untuk memproduksi Batik Saga secara mandiri.

Karena itu, Hestiwati meminta dukungan pemerintah daerah untuk mendorong pelatihan dan pengembangan keterampilan masyarakat, terutama dalam merancang motif, membuat batik, hingga mengembangkan produk turunannya.

Baca Juga:  Pentingnya Koordinasi Sektoral Wujudkan Program SDI

“Dengan minat beli masyarakat yang semakin berkembang, melalui kesempatan ini saya meminta dukungan pemerintah daerah bagaimana memberikan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, agar kita tidak lagi mencari tenaga dari daerah lain, tetapi bisa menciptakan dan memproduksi sendiri batik ini,” katanya.

Hestiwati mengakui, untuk saat ini pengembangan dan produksi Batik Saga masih dilakukan melalui kerja sama dengan pihak dari luar daerah. Namun, Tim Penggerak PKK Kabupaten Parigi Moutong terus berupaya menyiapkan masyarakat agar ke depan mampu menguasai proses produksi secara mandiri.

Ia menyebut, pihaknya telah melaksanakan pelatihan dan dalam waktu dekat akan kembali menggelar pelatihan batik dengan melibatkan OPD teknis, termasuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan, terutama dalam meningkatkan fasilitas pendukung produksi.

Baca Juga:  Pesan Helmi Usai Lantik 129 Bintara Polri Polda Sulteng

Langkah tersebut dinilai penting agar momentum penerimaan HKI tidak berhenti sebagai seremoni atau sekadar pengakuan atas sebuah motif. Lebih jauh, legalitas itu harus mampu menjadi pintu masuk bagi pengembangan industri kreatif, pemberdayaan masyarakat, sekaligus peningkatan nilai ekonomi produk lokal.

Dengan demikian, Batik Saga diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebanggaan daerah dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga tumbuh sebagai produk yang mampu membuka peluang usaha dan memperkuat ekonomi masyarakat.

“Alhamdulillah, dari PKK kami sudah melakukan pelatihan dan dalam waktu dekat akan melakukan pelatihan batik bekerja sama dengan OPD teknis, yaitu Perindag, dalam melakukan peningkatan fasilitas,” pungkasnya.

Laporan: Tommy Noho