Erwin Burase Bongkar Ketertinggalan Literasi Parimo, Perpustakaan Didesak Berbenah

oleh -51 Dilihat
oleh
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, membuka Festival Literasi 2026 sekaligus menyoroti capaian literasi daerah dan mendorong pembenahan fasilitas perpustakaan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Rabu (28/10/2026). Foto: Konteks Sulawesi.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, membuka Festival Literasi 2026 sekaligus menyoroti capaian literasi daerah dan mendorong pembenahan fasilitas perpustakaan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Rabu (28/10/2026). Foto: Konteks Sulawesi.

PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Bupati Parigi Moutong (Parimo), Erwin Burase, menyoroti rendahnya capaian literasi daerah yang berada di peringkat ke-12 dari 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah (Sulteng). Ia mendesak pembenahan perpustakaan, penguatan program membaca, dan perluasan perpustakaan desa agar ketertinggalan tersebut segera dikejar.

Pernyataan itu disampaikan Erwin saat membuka Festival Literasi 2026 di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Parigi Moutong, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Nasional.

Erwin mengapresiasi seluruh pihak yang telah berinisiatif menyelenggarakan festival tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa kegiatan literasi tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan harus menghasilkan perubahan nyata dalam kebiasaan membaca dan kemampuan masyarakat mengolah informasi.

Ia mengaku baru mencermati surat dari Perpustakaan Nasional yang memuat penilaian terhadap Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Parigi Moutong. Data tersebut, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani bersama.

Baca Juga:  Pengeluaran Belanja dan Pembiayaan Parimo Masih di Bawah 50 Persen

Bupati menyebut Parigi Moutong berada di urutan ke-12 dari 13 kabupaten/kota di Sulteng. Ia menyebut Kabupaten Tojo Una-Una sebagai daerah dengan capaian tertinggi, sementara Morowali berada di bawah Parigi Moutong berdasarkan data yang disampaikannya.

Menurut Erwin, literasi saat ini tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan memahami, mengolah, serta menganalisis informasi agar dapat berpikir lebih kritis dan mengambil keputusan dengan baik.

Karena itu, ia meminta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menyusun inovasi yang mampu menarik masyarakat, khususnya pelajar, agar lebih aktif memanfaatkan perpustakaan. Kerja sama dengan Dinas Pendidikan juga dinilai penting, termasuk melalui kunjungan rutin sekolah-sekolah ke perpustakaan daerah.

Erwin turut menyoroti kondisi gedung perpustakaan yang dinilainya megah, tetapi potensinya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ia menyebut masih ada proses hukum yang perlu diselesaikan sebelum gedung tersebut dapat dioptimalkan sepenuhnya.

Baca Juga:  Parigi Moutong Perkuat Komitmen Menuju Kabupaten Layak Anak

Ia meminta kepala dinas terkait mengawal penyelesaian persoalan hukum tersebut agar perpustakaan bisa segera difungsikan secara optimal. Setelah persoalan itu tuntas, pembenahan fasilitas diharapkan mencakup ruang baca yang nyaman, taman, bangku-bangku, serta koleksi buku yang layak dan diperbarui.

“Ini harus dibuat nyaman, Pak Kadis. Harus ada taman-tamannya, bagaimana ini bisa sejuk, ada tempat bangku-bangku, tempat duduk, tempat bisa membaca, dan tentunya buku-buku yang ada di dalam ini harus dilengkapi,” tegas Erwin.

Selain pembenahan gedung, ia meminta taman literasi di kawasan Toraranga di sekitar rumah jabatan bupati dan kantor perpustakaan lama diperbaiki agar kembali menjadi ruang yang menarik bagi masyarakat.

Baca Juga:  AJI Palu Warning KPID: Jangan Jadi Alat Represi Media

Program perpustakaan desa juga menjadi perhatian. Erwin mendorong agar setiap desa secara bertahap memiliki akses perpustakaan sehingga kesempatan membaca tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.

Ia menjelaskan, capaian literasi dan kegemaran membaca juga perlu menjadi perhatian karena berkaitan dengan penilaian serta peluang memperoleh dukungan program dari pemerintah pusat, termasuk bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Perpustakaan Nasional.

Di tengah perkembangan teknologi yang membuat masyarakat semakin banyak membaca melalui telepon seluler, Erwin menilai perpustakaan fisik harus berinovasi agar tetap diminati. Suasana yang nyaman, fasilitas memadai, dan kegiatan edukatif diharapkan membuat masyarakat kembali menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar.

“Harapan saya sekali lagi, Pak Kadis, dikawal proses hukum yang ada di perpustakaan ini secepatnya diselesaikan, kita harapkan agar kita bisa memaksimalkan,” pungkasnya.

Laporan: Tommy Noho