Bunda Literasi Hestiwati Soroti Minat Baca dan Fasilitas Perpustakaan Parimo

oleh -110 Dilihat
oleh
Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, menyampaikan pandangan dan masukan terkait peningkatan minat baca, pembenahan fasilitas perpustakaan, serta penguatan program literasi bagi generasi muda dalam Festival Literasi Parigi Moutong 2026, Rabu (28/10/2026). Foto: Konteks Sulawesi.
Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, menyampaikan pandangan dan masukan terkait peningkatan minat baca, pembenahan fasilitas perpustakaan, serta penguatan program literasi bagi generasi muda dalam Festival Literasi Parigi Moutong 2026, Rabu (28/10/2026). Foto: Konteks Sulawesi.

PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Hestiwati Nanga, menyoroti rendahnya capaian kegemaran membaca serta belum optimalnya fasilitas perpustakaan. Ia meminta pemerintah daerah memperkuat program literasi, mengaktifkan kembali layanan perpustakaan keliling, dan memberi ruang lebih besar bagi pelajar berprestasi.

Sorotan itu disampaikan Hestiwati saat menghadiri Festival Literasi Kabupaten Parigi Moutong 2026 di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Gerakan Gemar Membaca Nasional.

Dalam sambutannya, Hestiwati mengapresiasi penyelenggaraan festival. Namun, ia mengingatkan bahwa kegiatan literasi tidak boleh berhenti pada acara seremonial, melainkan harus diikuti strategi terukur untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dibacanya, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Parigi Moutong masih berada di bawah 50 persen. Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) disebut berada pada angka 50,28 persen.

Baca Juga:  Faradiba: Parimo Siap Jadi Gerbang Ekspor Durian Montong ke Tiongkok

Hestiwati meminta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersama organisasi perangkat daerah terkait menjadikan capaian tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menyusun program yang lebih efektif.

Menurutnya, peningkatan literasi membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, hingga pengelola perpustakaan di tingkat desa dan kecamatan.

Ia juga menyoroti pentingnya fasilitas perpustakaan yang nyaman dan memadai. Meski gedung perpustakaan dinilainya megah, masih terdapat sarana pendukung yang perlu dilengkapi, seperti pendingin ruangan, kursi, tirai, dan perangkat proyektor untuk menunjang kegiatan edukasi.

Hestiwati turut mendorong agar layanan perpustakaan keliling kembali diaktifkan secara optimal. Selain itu, program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) perlu diperkuat melalui pendampingan dan evaluasi berkala agar perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga pusat pembelajaran serta pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga:  Jelang Nataru, Parimo Percepat Gerakan Pangan Murah

Ia menegaskan, kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak usia dini melalui lingkungan keluarga. Orang tua dapat membiasakan anak membaca buku cerita sebelum tidur, sementara sekolah perlu menghidupkan kembali kegiatan seperti lomba puisi, pidato, dan bertutur untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, kreativitas, serta kepercayaan diri anak.

“Berangkat dari keluarga dulu kalau untuk meningkatkan minat baca,” ujar Hestiwati, menekankan bahwa pembentukan budaya membaca perlu dimulai dari rumah.

Selain membahas fasilitas dan kebiasaan membaca, Hestiwati meminta pemerintah daerah memberi perhatian kepada pelajar yang telah mengharumkan nama Parigi Moutong dalam kompetisi literasi.

Baca Juga:  Erwin Burase Tinjau Sekolah dan Jembatan di Pelosok Baina’a

Ia mencontohkan prestasi seorang siswa SD dari Desa Pelawa yang meraih juara pertama lomba bertutur tingkat Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Menurutnya, pencapaian tersebut patut diapresiasi dan dijadikan motivasi bagi pelajar lainnya.

Hestiwati berharap siswa berprestasi diberi kesempatan tampil dalam kegiatan literasi daerah agar kemampuan mereka semakin berkembang dan prestasinya mendapat pengakuan. Ia juga mendorong pendampingan terhadap desa-desa penerima program TPBIS supaya perpustakaan setempat dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain.

Bagi Hestiwati, membangun generasi muda yang unggul membutuhkan kerja bersama dan perhatian berkelanjutan. Penguatan fasilitas, pendampingan perpustakaan, pembiasaan membaca dalam keluarga, serta apresiasi terhadap prestasi pelajar harus berjalan beriringan.

“Jadi, berangkat dari keluarga dulu kalau untuk meningkatkan minat baca,” pungkasnya.

Laporan: Tommy Noho