Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Rp1,6 M Tanggul Cikasda Mulai Runtuh dan Menganga

oleh -201 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Kondisi retakan menganga pada proyek tanggul pengaman pantai (groin) di Dusun II, Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, yang bersumber dari APBD 2025 senilai Rp1,6 miliar. Sejumlah warga menyoroti dugaan kerusakan dini dan kualitas konstruksi yang dipertanyakan. Foto: Dok. Konteks Sulawesi/Basrul
Keterangan Foto: Kondisi retakan menganga pada proyek tanggul pengaman pantai (groin) di Dusun II, Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, yang bersumber dari APBD 2025 senilai Rp1,6 miliar. Sejumlah warga menyoroti dugaan kerusakan dini dan kualitas konstruksi yang dipertanyakan. Foto: Dok. Konteks Sulawesi/Basrul

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Proyek pembangunan tanggul pengaman pantai (groin) milik Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Provinsi Sulawesi Tengah di Dusun II, Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), menuai sorotan tajam dari warga sekitar. Anggaran Rp1.637.697.100 dari APBD 2025 digelontorkan. Namun, bangunan itu kini sudah retak dan patah di sejumlah titik.

Proyek dengan Nomor Kontrak 04/SP/PSDA.BPP.WSLDKK-SPDAB/CIKASDA/2025 tersebut dikerjakan oleh CV Trini Karya Perdana. Dari penelusuran media ini di lokasi, ditemukan retakan memanjang, patahan menganga pada badan tanggul, hingga lubang di bagian bawah konstruksi yang diduga ditutup dengan bentangan balok cor untuk menyamarkan rongga.

Baca Juga:  Warga Tumpah Ruah Hadiri Kampanye 1.000 Titik Pasangan BERSINAR

Sejumlah warga Dusun II mempertanyakan kualitas pekerjaan. Rukli Katega, warga yang ditemui di lokasi, membeberkan dugaan kedalaman pondasi yang tak sesuai.

“Pas digali pakai alat berat, kedalamannya kurang lebih satu meter. Tapi setelah dihantam ombak, galian itu tertutup lumpur. Digali lagi pakai tenaga manusia, sudah tidak sedalam sebelumnya,” ujar Rukli.

Menurutnya, saat penggalian ulang dilakukan, kedalaman pondasi hanya berkisar 50 hingga 100 sentimeter. Padahal, pada galian awal menggunakan alat berat, kedalamannya disebut lebih dari satu meter.

“Kalau galian pertama pakai alat berat itu dalam, satu meter lebih. Tapi waktu digali lagi setelah tertimbun ombak, tidak sedalam itu,” katanya.

Baca Juga:  Eks Walhi Dedi Askary: Tanah Leluhur Tak Boleh Dikorbankan CPM

Rukli juga mengungkapkan bahwa proyek tersebut sempat mendapat teguran dari salah satu anggota legislatif dapil III dari Partai PDIP.

“Dia hubungi temannya di Palu. Langsung turun dari Dinas PU Provinsi meninjau,” ucapnya.

Sorotan tak berhenti pada kedalaman pondasi. Rukli menduga, konstruksi cor pada tanggul tidak dilengkapi pembesian sebagaimana mestinya.

“Di dalam corannya tidak ada besi, cuma pakai papan. Di-cor tapi tidak ada pembentangan besinya,” tegasnya.

Ia membandingkan dengan bangunan tanggul di sisi lain lokasi yang dinilai lebih kokoh.

“Yang sebelah itu kuat, karena di koporannya ada besi semua,” katanya.

Baca Juga:  Mentan Proyeksikan Lembah Napu Jadi Lokasi Peternakan Susu Sapi Perah

Kini, meski belum genap setahun, tanggul tersebut disebut sudah menunjukkan banyak retakan.

“Ini saja baru berapa bulan, tapi sudah banyak yang retak-retak,” tutupnya.

Proyek bernilai miliaran rupiah itu kini menyisakan tanda tanya, apakah konstruksi telah sesuai spesifikasi teknis, atau ada yang luput dalam pengawasan?

Laporan: Tommy Noho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *