PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Kekeringan yang mengancam ratusan hektare sawah di Desa Ogotion, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), mendapat respons cepat Balai Sungai Dua Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Langkah ini memberi harapan bagi petani untuk mempertahankan lahan pertanian dari ancaman gagal tanam akibat kemarau panjang.
Pada Senin, (24/08/2026), tim teknis Balai Sungai Dua turun langsung ke Desa Ogotion setelah menerima laporan mengenai kondisi kekeringan yang mulai mengganggu aktivitas pertanian. Desa tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penyangga pangan di Kecamatan Mepanga.
Perwakilan Kelompok Tani Desa Ogotion, Wayan Puji, menyambut baik respons cepat tersebut. Ia berharap rencana pembangunan sumber air dapat segera direalisasikan sehingga petani memiliki kepastian dalam menjalankan kegiatan pertanian.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian pemerintah melalui Balai Sungai Dua. Harapan kami, langkah tanggap ini segera diikuti dengan realisasi pembangunan sumber air agar Desa Ogotion tetap menjadi lumbung pangan yang dapat menyuplai kebutuhan pangan masyarakat luas,” ujar Wayan.
Sementara, Kepala Desa Ogotion, Budi NLP, mengatakan kekeringan telah berlangsung sejak pekan sebelumnya. Minimnya curah hujan menyebabkan sejumlah saluran irigasi permukaan mengering dan berdampak langsung terhadap lahan persawahan masyarakat.
Dari sekitar 900 hektare areal persawahan yang berada di Desa Ogotion, diperkirakan 600 hektare mengalami kekeringan. Kondisi tersebut membuat petani menghadapi ancaman gagal tanam apabila tidak segera mendapatkan sumber air alternatif.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, tim Balai Sungai Dua melakukan peninjauan langsung terhadap jaringan irigasi, sumber air, serta areal persawahan yang terdampak. Peninjauan dilakukan untuk mengetahui titik-titik kritis sekaligus memetakan sumber air yang berpotensi dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pertanian.
Salah satu solusi yang menjadi perhatian adalah penyediaan sumber air mandiri melalui pembangunan sumur bor air tanah. Selain itu, pemanfaatan potensi mata air serta perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang rusak maupun tertimbun juga menjadi bagian dari langkah penanganan.
Balai Sungai Dua juga menyatakan kesiapan mendukung rencana pembangunan Sistem Irigasi Bersumber Air Tanah melalui sumur bor dalam yang sebelumnya diusulkan Pemerintah Desa Ogotion. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air, terutama ketika musim kemarau kembali terjadi.
Budi NLP menilai keterlibatan Balai Sungai Dua memberikan harapan baru bagi masyarakat, khususnya para petani yang saat ini menghadapi tekanan akibat kekeringan. Ia memastikan masyarakat desa siap berpartisipasi dalam menjaga dan merawat fasilitas apabila pembangunan sumber air tersebut terealisasi.
Menurut Budi, penanganan kekeringan tidak hanya membutuhkan intervensi jangka pendek, tetapi juga solusi berkelanjutan. Ketersediaan sumber air melalui sumur bor dan perbaikan jaringan irigasi diharapkan mampu mengurangi risiko gagal tanam pada musim kemarau berikutnya.
Ia juga meminta perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap kondisi ekonomi petani yang terdampak. Salah satu harapannya adalah adanya kebijakan keringanan atau kompensasi terkait pinjaman perbankan bagi petani yang mengalami kerugian akibat gagal panen dan gagal tanam selama musim kemarau 2025–2026.
“Kami berharap pemerintah pusat dan daerah dapat memberikan perhatian kepada petani yang terdampak, termasuk solusi terhadap kewajiban pinjaman di perbankan. Kondisi gagal panen dan gagal tanam akibat kemarau panjang sangat membebani petani,” kata Budi.
Respons cepat Balai Sungai Dua menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara pemerintah, petani dan masyarakat desa. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menyelamatkan lahan pertanian yang terancam kekeringan, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi pangan dan perekonomian masyarakat Ogotion.
“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana sumber air bisa segera diwujudkan agar petani dapat kembali menanam dan lahan pertanian tetap produktif. Kami berharap perhatian pemerintah terus berlanjut sampai persoalan kekeringan ini benar-benar mendapatkan solusi,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho.









