PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Di bawah Yayasan Pelita Prabu Berjaya Indonesia Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Sausu Torono di Desa Torono, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), resmi beroperasi Selasa, 13 Januari 2026. Peresmian ini dihadiri unsur pemerintah kecamatan dan desa, Polsek Sausu, serta perwakilan TNI sebagai penanda dimulainya layanan pemenuhan gizi bagi pelajar dan kelompok sasaran lainnya di wilayah tersebut.
Wakil Ketua Pelita Prabu Provinsi Sulawesi Tengah, Usman, menegaskan MBG merupakan program strategis nasional yang lahir dari gagasan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pelita Prabu, kata dia, dipercaya sebagai mitra pengawal program agar berjalan sesuai tujuan hingga tingkat desa.
“Pelita Prabu adalah perpanjangan tangan Presiden. Tugas kami bukan hanya mendirikan dapur, tetapi mengawal dan mengawasi agar program makan bergizi gratis berjalan aman dan tepat sasaran,” ujar Usman.
Ia menjelaskan, sejak Mei 2025 Pelita Prabu Sulawesi Tengah melakukan penguatan struktur di 12 kabupaten dan satu kota. Fokus utama diarahkan pada standar kebersihan dapur, keamanan bahan pangan, serta distribusi makanan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi penerima manfaat.
“Kami belajar dari sejumlah temuan di lapangan. Pengawasan dapur itu krusial, karena satu kesalahan kecil bisa berdampak pada kesehatan anak-anak sebagai generasi penerus,” katanya.
Usman juga memaparkan hasil evaluasi kasus keracunan yang sempat terjadi di daerah lain. Investigasi internal menemukan sumber masalah berasal dari bahan makanan yang tidak layak konsumsi. Temuan tersebut, menurut dia, menjadi pelajaran penting untuk memperketat SOP dapur MBG di seluruh wilayah Sulawesi Tengah.
“Kasus itu menunjukkan pentingnya kewaspadaan. Jika bahan pangan terkontaminasi bakteri, dampaknya bisa langsung dirasakan. Karena itu, kebersihan dan keamanan dapur tidak boleh ditawar,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Sausu Drs. Jumail menyampaikan bahwa peluncuran MBG di wilayahnya menjawab keraguan masyarakat yang sebelumnya mempertanyakan kepastian program. Ia menegaskan seluruh sasaran MBG mulai dari peserta didik hingga ibu hamil, harus dilayani sesuai ketentuan yang berlaku.
“Hari ini terjawab. Program MBG memang melalui proses, dan sekarang sudah berjalan. Tinggal kita jaga bersama agar pengelolaannya sesuai SOP dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Jumail menambahkan, keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada pengelola dapur, tetapi juga sinergi lintas sektor, termasuk puskesmas, sekolah, aparat keamanan, dan pemerintah desa. Ia mengingatkan bahwa pengawasan bersama penting untuk mencegah masalah kesehatan dan menjaga kepercayaan publik terhadap program nasional tersebut.
“Kalau semua pihak konsisten menjaga standar, target penerima bisa ditingkatkan. Kuncinya ada pada disiplin dan tanggung jawab bersama,” pungkas Jumail.
Laporan: Tommy Noho











