PARIMO, KONTEKS SULAWESI – Abrasi pantai yang terus menggerus Desa Sintuwu Raya, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), kembali memaksa warga mengambil peran Pemerintah Daerah (Pemda). Tanpa talut pemecah ombak dan tanpa kepastian program perlindungan pesisir, masyarakat bersama aparat desa membangun tanggul darurat dari karung berisi pasir.
Kepala Desa Sintuwu Raya, Rano, mengatakan gotong royong ini bukan pilihan ideal, melainkan langkah terpaksa di tengah lambannya respons pemerintah daerah. Warga, kata dia, sadar tanggul darurat tidak akan bertahan lama menghadapi gelombang laut.
“Ini langkah darurat. Kalau menunggu talut permanen, daratan sudah lebih dulu habis,” kata Rano, Ahad (25/1/2026).
Abrasi di Sintuwu Raya telah berlangsung bertahun-tahun. Setiap musim gelombang tinggi, garis pantai mundur antara 10 hingga 15 meter. Namun hingga kini, belum ada pembangunan pemecah ombak yang terencana dan berkelanjutan dari pemerintah daerah Parigi Moutong.
“Setiap tahun abrasi makin parah, tapi penanganannya selalu bersifat sementara dan reaktif,” ujar Rano.
Ketiadaan infrastruktur perlindungan pantai berdampak langsung pada kehidupan warga. Akses air bersih terganggu akibat intrusi air laut, lahan pertanian menyusut, dan sejumlah rumah warga berada dalam ancaman abrasi lanjutan.
“Yang terancam bukan hanya tanah, tapi keberlangsungan hidup warga pesisir,” katanya.
Sebagai upaya menahan laju kerusakan, warga menyusun karung pasir di sepanjang pantai dan menjadwalkan kerja bakti rutin setiap akhir pekan. Rano menilai gotong royong ini menjadi potret ironi, solidaritas warga menutup kekosongan kebijakan daerah.
“Kami bekerja setiap Sabtu dan Minggu. Tapi ini tidak bisa terus-menerus. Kami berharap pemerintah daerah turun tangan, karena masalah ini sudah di luar kemampuan desa,” tutup Rano.
Laporan: Iskandar Miu











