Bara Karhutla Masih Menyala di Avolua–Uevolo, Tagana Padamkan Api dengan Alat Manual

oleh -156 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Parigi Moutong memadamkan bara api karhutla yang masih menyala di bawah permukaan tanah gambut di Desa Avolua–Uevolo dengan menggunakan alat semprot manual, Ahad (08/02/2026). Pemadaman dilakukan secara menyisir titik asap di sela akar dan kayu lapuk untuk mencegah api kembali menyala. Foto: Dok. Konteks Sulawesi/Basrul
Keterangan Foto: Petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Parigi Moutong memadamkan bara api karhutla yang masih menyala di bawah permukaan tanah gambut di Desa Avolua–Uevolo dengan menggunakan alat semprot manual, Ahad (08/02/2026). Pemadaman dilakukan secara menyisir titik asap di sela akar dan kayu lapuk untuk mencegah api kembali menyala. Foto: Dok. Konteks Sulawesi/Basrul

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Tengah, dan Desa Uevolo, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), belum sepenuhnya berakhir. Meski api di permukaan tampak padam, bara masih menyala di bawah tanah gambut dan berpotensi kembali membesar, memaksa petugas berjibaku dengan peralatan seadanya.

Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Parigi Moutong, Iwan, mengatakan tim Tagana dari Dinas Sosial dikerahkan untuk membantu pemadaman lanjutan di lokasi terdampak. Dengan keterbatasan sarana, personel Tagana harus menggendong tangki semprot pertanian atau knapsack sprayer berisi air untuk menjangkau titik-titik bara yang tersembunyi di sela akar pohon dan kayu lapuk.

Baca Juga:  3 Warga Terjebak Banjir di Morowali Berhasil Dievakuasi

“Api tidak terlihat di permukaan, tapi masih menyala di bawah tanah. Ini yang berbahaya karena bisa muncul kembali kapan saja,” ujar Iwan, Ahad (08/02/2026).

Ia menjelaskan, proses pemadaman dilakukan secara manual dengan menyemprotkan air langsung ke sumber asap yang muncul dari tanah menghitam dan berdebu. Karakteristik lahan kering bercampur gambut membuat api sulit dideteksi dan membutuhkan ketelitian ekstra dari petugas.

“Kami fokus pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap. Kalau tidak disiram sampai basah, bara bisa hidup lagi,” katanya.

Selain knapsack sprayer, petugas juga membersihkan ranting serta sisa kayu terbakar untuk membuka akses menuju pusat api. Namun, medan yang berbukit dan dipenuhi vegetasi kering menjadi tantangan serius dalam upaya pemadaman.

Baca Juga:  Matangkan RPJMD Parigi Moutong, Bupati Ajak Masyarakat Beri Masukan

“Medannya cukup berat, ditambah peralatan yang terbatas. Tapi ini harus dilakukan untuk mencegah api meluas,” ungkapnya.

Keterlibatan Tagana, lanjut Iwan, merupakan bentuk dukungan lintas sektor dalam penanganan darurat karhutla. Fokus utama saat ini adalah menahan agar api tidak kembali menjalar ke kawasan hutan yang lebih luas maupun mendekati permukiman warga.

Hingga kini, pemantauan intensif masih dilakukan bersama aparat dan relawan setempat. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara dibakar, mengingat kondisi cuaca kering masih mendominasi wilayah Parigi Moutong.

“Kalau ada pembakaran baru, situasi bisa semakin sulit dikendalikan,” pungkasnya.

Baca Juga:  Pesan Zulfinasran Saat Menerima Mahasiswa PBL Fakultas Kesmas Untad

Laporan: Basrul Idrus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *