PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah ritual tua dari tanah Lauje di Sulawesi Tengah (Sulteng) tetap hidup, mengajarkan harmoni, kebersamaan, dan jati diri yang tak lekang oleh waktu.
Di utara Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), tepatnya di Kecamatan Palasa, waktu seakan berjalan dengan caranya sendiri. Ia tidak tergesa, tidak pula tunduk pada hiruk-pikuk dunia modern. Di sana, waktu menyatu dengan alam, dengan ingatan kolektif, dan dengan denyut kehidupan masyarakat adat Lauje yang masih setia merawat warisan leluhur bernama Tantalo’an.
Bagi masyarakat Lauje, Tantalo’an bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang sacral, sebuah jembatan yang menghubungkan manusia dengan alam semesta, sekaligus menjalin kembali relasi dengan para leluhur yang telah lebih dahulu berpulang. Dalam setiap gerak, bunyi, dan simbolnya, tersimpan pesan mendalam tentang keseimbangan: bahwa manusia bukanlah penguasa bumi, melainkan bagian utuh dari jagat raya yang harus dijaga dan dihormati.
Namun, di tengah perubahan zaman yang kian cepat, Tantalo’an tidak sepenuhnya kebal. Generasi muda mulai bersentuhan dengan budaya luar yang serba instan dan praktis. Perlahan, sebagian dari mereka mulai menjauh dari makna simbolik yang terkandung dalam tiap tahapan ritual. Tantalo’an pun berada di persimpangan, antara tetap teguh sebagai identitas, atau perlahan memudar menjadi sekadar cerita masa silam.
Meski demikian, di Palasa, harapan itu masih menyala. Tantalo’an tidak diperlakukan sebagai artefak usang, melainkan sebagai identitas hidup yang terus dirawat dengan kesadaran kolektif. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar, dan bahwa kearifan lama sering kali menyimpan jawaban bagi masa depan.
Malam itu, di sebuah pekarangan sederhana, keheningan dipecah oleh denting gimbal. Irama yang lahir dari tangan dua lelaki sepuh menggema, memanggil warga dari Desa Pebounang, Tomini, dan kampung-kampung sekitar untuk berkumpul. Sebuah kain putih tergantung di pintu masuk rumah panggung kecil, penanda bahwa ruang itu tengah menjadi pusat ritual sakral.
Molansang: Membuka Ingatan, Menyapa Leluhur
Di bawah temaram lampu seadanya, seorang tetua adat Mantalapu, Amedia, memimpin prosesi pembuka. Tubuhnya renta, namun wibawanya tegak tak tergoyahkan. Dengan suara lirih yang sarat makna, ia menuturkan kembali hubungan manusia dengan alam, tentang tanggung jawab menjaga keseimbangan, serta tentang penghormatan kepada yang tak kasatmata.
Di hadapannya, sebuah layang (piring adat) berisi sesajian tersusun rapi: lugus (pinang), dolo’e (sirih), tilong (kapur), kupang (koin kuno), tabao (tembakau), gapas (benang), dan tutung. Satu per satu warga maju, menerima sentuhan adat, disertai mantra yang mengalun pelan namun penuh kekuatan spiritual.
Dalam prosesi Nosambena, mereka dikenakan kalung manik-manik Novululi. Bagi masyarakat Lauje, ini bukan sekadar simbol estetika, melainkan bagian dari praktik pengobatan tradisional Mongulam, sebuah keyakinan turun-temurun yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit sekaligus menangkal bala.
“Njine pamulangonye mongutu onu Tantalo’an,” ujar Mantalapu Amedia. Ini adalah permulaan dari pelaksanaan Tantalo’an.
Selepas prosesi sakral itu, ruang tamu menjelma menjadi panggung kebersamaan. Belasan perempuan berdiri berhadapan, menggenggam Long Ombunoi, daun nibung, yang diayunkan perlahan. Mereka menari dalam pola maju-mundur, selaras dengan irama gimbal. Gerak yang sederhana, namun sarat makna. Inilah jantung Tantalo’an, tarian yang membuka malam Molansang.
“Jimo bengkel sauw gote njoa no pelu liameine onu Tantalo’an, seperti menari dengan Long Ombunoi,” tutur Amedia.
Monimpas Boto Nu Pensa: Menutup dengan Harmoni
Memasuki malam kedua, ritual berlanjut dalam prosesi Monimpas Boto Nu Pensa, sebuah penutup yang sarat simbol. Sebatang pohon pisang digantung pada bambu, menjadi pusat perhatian dalam tarian yang kemudian berujung pada penebasan batang tersebut.
Iringan gimbal yang terbuat dari kayu onsuu dan kulit kus-kus berpadu dengan gerak tubuh para penari, menghadirkan harmoni antara bunyi, gerak, dan makna. Tarian dilakukan berulang hingga tiga kali, maju, mundur, bertukar posisi, menciptakan bahasa kolektif yang menghapus sekat di antara mereka yang hadir.
“Perbedaan Tantalo’an, pamulangonye kangkai malam kedua bi Monimpas Boto Nu Pensa,” jelas Amedia, “yakni pada prosesi penebangan batang pisang sebagai penutup.”
Tak ada batas dalam lingkaran itu. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semua larut dalam ritme yang sama. Mereka menjadi satu dalam gerak, satu dalam rasa.
Di penghujung ritual, kebersamaan mencapai puncaknya. Hidangan sederhana dibagikan: tandoi, pulut yang dibungkus daun kunyit, nasi putih dengan parutan kelapa, serta telur rebus. Mereka duduk berdekatan, menikmati sajian yang sama, memperkuat kembali ikatan sosial yang kian langka di luar sana.
Tantalo’an, pada akhirnya, bukan sekadar ritual adat. Ia adalah ruang sosial tempat nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, dan identitas diwariskan lintas generasi. Di tengah dunia yang semakin individualistis, Tantalo’an hadir sebagai pengingat bahwa manusia sejatinya tumbuh dari kebersamaan, bukan keterpisahan.
Di Palasa, Tantalo’an bukan kisah lama yang berdebu. Ia adalah napas yang terus dijaga, agar generasi mendatang tidak kehilangan arah, tetap mengenali jati dirinya, dan selalu ingat dari mana mereka berasal.
“Pada akhirnya, Tantalo’an bukan hanya tentang masa lalu yang dirawat, tetapi tentang masa depan yang sedang dijaga, agar manusia tetap berpijak, tidak tercerabut dari akarnya sendiri.” tutupnya.
Laporan: Basrul Idrus











