Parimo Gencarkan Gerakan Kembalikan Ribuan Anak Tidak Sekolah

oleh -63 Dilihat
oleh
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menggelar gerakan pengembalian anak tidak sekolah (ATS) untuk mendorong anak-anak kembali mengenyam pendidikan. Foto: Diskominfo Kabupaten Parigi Moutong.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menggelar gerakan pengembalian anak tidak sekolah (ATS) untuk mendorong anak-anak kembali mengenyam pendidikan. Foto: Diskominfo Kabupaten Parigi Moutong.

PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Sebanyak 13.226 anak di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), sebelumnya tercatat tidak bersekolah. Pemerintah daerah kini terus menggenjot upaya pengembalian anak ke bangku pendidikan. Hingga September 2026, sekitar 2.000 anak dilaporkan berhasil didorong kembali bersekolah melalui berbagai langkah penanganan.

Upaya tersebut diperkuat melalui kampanye Gerakan Bersama Kembalikan Anak ke Sekolah Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan jalan santai pada Selasa (20/10/2026).

Kegiatan itu dilepas oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Adrudin Nur, serta diikuti jajaran perangkat daerah, unsur pendidikan, dan peserta lainnya.

Dalam sambutannya, Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, menegaskan bahwa penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) tidak boleh berhenti pada pendataan semata. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap anak yang terhambat mengakses pendidikan mendapatkan solusi agar dapat kembali mengikuti proses belajar.

Baca Juga:  Kadis DKP Programkan ‘TASI GAYA’ Topang Potensi Perikanan dan Kelautan di Parigi Moutong

Meski sekitar 2.000 anak telah berhasil didorong kembali bersekolah hingga September 2026, tantangan masih besar. Pemerintah daerah perlu menelusuri keberadaan anak-anak yang belum mengenyam pendidikan, termasuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan bangku sekolah.

Salah satu langkah yang ditekankan ialah pendataan by name by address atau berdasarkan nama dan alamat. Pendekatan ini diharapkan membantu pemerintah mengidentifikasi anak secara lebih tepat sekaligus mengetahui persoalan yang menghambat mereka memperoleh pendidikan.

Perhatian khusus juga diarahkan ke wilayah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan akses menuju sekolah. Jarak tempuh dan kondisi geografis menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Baca Juga:  Sertijab Pejabat, Pemda Parimo Dorong Reformasi Birokrasi

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah daerah mengupayakan pembangunan sekolah satu atap serta merencanakan penyediaan rumah singgah bagi anak-anak yang terkendala jarak dan akses pendidikan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi hambatan yang selama ini menyulitkan anak-anak untuk bersekolah secara rutin.

Kampanye Gerakan Bersama Kembalikan Anak ke Sekolah juga menjadi ajakan kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat, agar terlibat aktif dalam memastikan anak-anak memperoleh hak pendidikan.

Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah anak yang kembali bersekolah, tetapi juga dari kemampuan pemerintah memastikan mereka tetap mengikuti pendidikan dan tidak kembali putus sekolah. Karena itu, pendataan, pendampingan keluarga, serta penyediaan akses pendidikan yang memadai menjadi bagian penting dalam penanganan ATS.

Baca Juga:  Parimo Percepat Kampung Nelayan Demi Sejahterakan Masyarakat Pesisir

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong berharap gerakan tersebut dapat memperkuat kepedulian bersama terhadap masa depan anak-anak, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi, geografis, maupun persoalan sosial lainnya.

“Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan kesempatan meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu, diperlukan kerja sama semua pihak agar anak-anak yang belum bersekolah dapat kembali belajar dan terus melanjutkan pendidikannya,” pungkasnya.Sumber: Diskominfo Kabupaten Parigi Moutong.