Siap Jadi Pilot Project Disdikbud, SMPN 2 Parigi Benahi Fasilitas dan Identitas Sekolah

oleh -84 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Kepala SMP Negeri 2 Parigi, Suardi S.Pd, saat ditemui di lingkungan sekolah di Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. SMPN 2 Parigi menyatakan kesiapan menjadi pilot project inovasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan sejumlah pembenahan fasilitas dan identitas sekolah. Foto: Dok. Konteks Sulawesi/Basrul
Keterangan Foto: Kepala SMP Negeri 2 Parigi, Suardi S.Pd, saat ditemui di lingkungan sekolah di Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. SMPN 2 Parigi menyatakan kesiapan menjadi pilot project inovasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan sejumlah pembenahan fasilitas dan identitas sekolah. Foto: Dok. Konteks Sulawesi/Basrul

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Kepala SMP Negeri 2 Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menyatakan kesiapan sekolahnya menjadi pilot project inovasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong. Meski masih dibayangi keterbatasan fasilitas, pihak sekolah optimistis pembenahan bertahap bisa segera direalisasikan.

Kepala SMP Negeri 2 Parigi, Suardi S.Pd, mengakui dukungan terhadap program inovasi Disdikbud sudah berjalan, khususnya di bidang olahraga. Namun, sejumlah sarana masih perlu ditingkatkan.

“Kalau di bidang olahraga jelas sudah ada. Hanya saja lapangan bulutangkisnya masih menggunakan multi-lapangan. Sehabis main voli baru bisa dipakai untuk olahraga lain seperti bulu tangkis, karena sampai sekarang belum ada gedung khusus,” ujar Suardi, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, wacana pembangunan aula serbaguna sebenarnya sudah digagas sejak kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya. Namun, keterbatasan struktur bangunan menjadi kendala.

“Kemarin waktu kepala sekolah sebelumnya sudah diwacanakan salah satu aula dibuat multi guna. Cuma karena plafonnya rendah, tidak memungkinkan. Rencananya plafonnya akan ditinggikan,” katanya.

Baca Juga:  Pembelajaran Bulan Ramadhan Diputuskan Pekan Depan

Upaya komunikasi dengan pemerintah provinsi juga telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil konkret. “Sudah lobi-lobi ke provinsi, tapi belum ada titik terang. Itu memang masih jadi kekurangan kita,” ucapnya.

Di luar fasilitas olahraga, Suardi memastikan kegiatan ekstrakurikuler seperti silat, karate, dan taekwondo tetap berjalan, khususnya setiap Sabtu. Fasilitas laboratorium pun dinilai cukup memadai.

“Untuk lab sudah lengkap, mulai dari lab komputer sampai lab IPA,” ujarnya.

Tak hanya infrastruktur, pembenahan juga menyasar identitas sekolah. Pada semester berikutnya, pihak sekolah berencana membuat logo resmi sebagai ciri khas, menggantikan logo Tut Wuri Handayani yang selama ini digunakan.

“Tahun ini di semester berikut kita akan coba buat logo sekolah supaya ada identitas sendiri untuk SMP Negeri 2,” jelasnya.

Selain itu, sekolah juga akan menyeragamkan batik dan pakaian olahraga siswa yang selama ini berbeda tiap kelas.

“Pilih memang batik yang bagus. Ini identitas SMP Negeri 2,” tegas Suardi.

Baca Juga:  Tak Capai Target PAD, OPD Bakal Kena Sanksi

Di sisi lain, persoalan pagar belakang sekolah menjadi perhatian serius. Sekitar 200 meter area belum berpagar, sehingga rawan disalahgunakan siswa untuk bolos.

“Sekitar 200 meter itu harus dibangun, karena di situ akses anak-anak bolos sekolah. Dengan pekarangan seluas ini, setengah mati satpam mengawasi,” ungkapnya.

Saat ini, pihak sekolah tengah menyiapkan proposal kepada bupati dan dinas terkait guna meminta solusi penanganan pembangunan pagar tersebut.

Selain pagar, sistem pembuatan soal secara daring juga menjadi pekerjaan rumah yang akan dibenahi ke depan.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, SMP Negeri 2 Parigi tetap menyatakan siap menjadi percontohan inovasi pendidikan di Parigi Moutong, sembari menunggu dukungan konkret dari pemerintah daerah.

Semenatra itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Sunarti mulai mengarahkan kebijakan pendidikannya mengikuti visi-misi Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase. Penyesuaian itu dituangkan dalam rencana strategis (Renstra) lima tahun ke depan, dengan menyiapkan sekolah pilot project dan skema sister school sebagai program unggulan.

Baca Juga:  Bupati dan Wakil Bupati Parimo Tinjau Karhutla di Uevolo Pemda Siapkan Alkon dan Opsi Water Bombing

Sunarti, mengatakan kebijakan tersebut telah dikemas dalam rencana kerja (Renja) Disdikbud dan akan menjadi arah pembangunan pendidikan selama masa kepemimpinan bupati saat ini.

“Untuk tahun ini hingga lima tahun ke depan, sesuai Renstra yang kami miliki, kami menyesuaikan program dengan kepemimpinan bupati. Salah satu inovasinya adalah sekolah pilot project dan sister school,” ujar Sunarti belum lama ini.

Sunarti menjelaskan, sekolah yang ditetapkan sebagai pilot project merupakan sekolah dengan akreditasi baik serta capaian nilai rapor yang tinggi. Sekolah-sekolah tersebut akan dijadikan percontohan untuk membina sekolah lain yang kualitasnya masih dinilai rendah.

“Sekolah yang akreditasinya bagus dan nilai raportnya baik akan kami jadikan sekolah pilot project. Sekolah inilah yang akan membina sekolah-sekolah lain melalui skema sister school,” tutupnya.

Laporan: Tommy Noho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *