Muswil APRI Sulteng, Menakar Pemimpin Baru Penjaga Marwah Penghulu

oleh -105 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Dr. Basrin Ombo, S.Ag., M.Hi., Pengurus APRI Cabang Poso, berpose di depan backdrop bertuliskan “Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Sulawesi Tengah)” sebagai simbol komitmen memperkuat profesionalisme penghulu menjelang Muswil APRI Sulteng ke-II tahun 2025.
Keterangan Foto: Dr. Basrin Ombo, S.Ag., M.Hi., Pengurus APRI Cabang Poso, berpose di depan backdrop bertuliskan “Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Sulawesi Tengah)” sebagai simbol komitmen memperkuat profesionalisme penghulu menjelang Muswil APRI Sulteng ke-II tahun 2025.

PALU, KONTEKS SULAWESI Gelombang perubahan tengah berhembus di tubuh Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Sulawesi Tengah. Seluruh Kepala KUA Kecamatan dan Penghulu se-Sulteng bersiap menentukan pucuk pimpinan baru melalui Musyawarah Wilayah (Muswil) APRI II yang digelar 15 November 2025 di Swiss-Belhotel Palu. Agenda ini menjadi ruang strategis untuk memilih figur yang mampu membawa organisasi maju di tengah semakin kompleksnya tantangan sosial-keagamaan.

Pengurus APRI Cabang Kabupaten Poso, Dr. Basrin Ombo, S.Ag., M.Hi, menegaskan bahwa pernikahan bukanlah perkara dua insan semata, tetapi fondasi moral sebuah masyarakat.

“Di titik inilah peran penghulu menjadi amat penting. Mereka bukan sekadar memimpin akad, tetapi garda terdepan menjaga kesucian dan ketertiban perkawinan,” ujarnya.

Baca Juga:  Sinergi Apdurin dan Kadin Parimo, Jurnalis FC Dapat Jersey Baru

Lebih jauh, Basrin menilai kehadiran APRI adalah bukti bahwa profesi penghulu tidak dapat dipandang sebelah mata.

“Penghulu bukan hanya pegawai pencatat. Mereka figur yang ikut membentuk arah moral bangsa,” tambahnya.

APRI, kata Basrin, kini menjadi ruang kolektif untuk memperkuat kompetensi, kesejahteraan, dan solidaritas para penghulu. Organisasi ini mendorong para anggotanya agar tidak berhenti pada fungsi administratif, tetapi berkembang menjadi edukator pranikah, mediator konflik rumah tangga, hingga teladan dalam kehidupan sosial-keagamaan.

Di tengah meningkatnya angka perceraian dan maraknya pernikahan usia muda, peran strategis penghulu semakin krusial. Melalui pendekatan humanis dan berbasis nilai agama, penghulu dituntut memperkuat ketahanan keluarga. APRI, menurut Basrin, harus memastikan setiap penghulu dibekali keterampilan komunikasi, konseling, hingga pemahaman hukum yang memadai.

Baca Juga:  Kedatangan Ida Dayak di Kota Parigi, Hoaks!

Namun, ia tak menampik bahwa tantangan ke depan semakin berat. Keterbatasan sarana, beban kerja tinggi, serta dinamika sosial yang terus berubah membuat posisi penghulu tidak sederhana. Di sinilah APRI berfungsi sebagai jembatan antara penghulu, pemerintah, dan Masyarakat, memberi perlindungan, kebijakan, serta dukungan yang layak bagi profesi strategis ini.

Basrin berharap Muswil APRI ke-II mampu melahirkan pemimpin berintegritas dan visioner bagi APRI Sulawesi Tengah.

“Ketua APRI ke depan harus mampu membangun diplomasi dan sinergi dengan pemerintah daerah, sejalan dengan cita luhur Presiden menuju Indonesia Emas,” ungkapnya.

Baca Juga:  Banjir Hanyutkan Cagar Budaya dan Empat Rumah di Parigi Moutong

Ia menegaskan, organisasi ini membutuhkan sosok yang mampu menggerakkan APRI agar dihormati dan diperhitungkan di daerah.

“APRI bukan sekadar organisasi profesi. Pemimpinnya harus menjadi simbol semangat kolektif meneguhkan marwah penghulu sebagai penjaga peradaban keluarga Islam, khususnya di Sulawesi Tengah,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *