Aspal Tak Mulus, Sapta Unggul Janji Perbaiki, BPJN Disorot Soal Pengawasan

oleh -77 Dilihat
oleh
Kondisi jalan yang dibobok untuk pekerjaan tambal sulam, sementara material aspal tampak menumpuk di sejumlah titik ruas Trans Sulawesi. Foto: Tommy Noho
Kondisi jalan yang dibobok untuk pekerjaan tambal sulam, sementara material aspal tampak menumpuk di sejumlah titik ruas Trans Sulawesi. Foto: Tommy Noho

PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Pekerjaan tambal sulam Jalan Trans Sulawesi Ruas II Toboli-Tinombo di Desa Baina’a Selatan, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), menuai sorotan. Permukaan jalan di sejumlah titik terlihat bergelombang setelah pekerjaan dilakukan, sehingga warga mempertanyakan kualitas hasil pekerjaan tersebut.

Proyek pemeliharaan jalan nasional yang dikerjakan PT Sapta Unggul milik Rudi Candra merupakan bagian dari pemeliharaan jalan nasional di bawah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum.

Berdasarkan pantauan di sejumlah titik, terdapat bagian permukaan hasil tambal sulam yang tampak tidak rata dan bergelombang. Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan di tengah masyarakat bahwa proses penghamparan dan pemadatan material belum menghasilkan permukaan sebagaimana yang diharapkan.

Baca Juga:  Panen Raya Balinggi Dorong Petani Parimo Mandiri

Dugaan persoalan teknis tersebut juga dikaitkan dengan temperatur campuran aspal saat proses pengangkutan, penghamparan dan pemadatan. Secara teknis, campuran aspal panas (hot mix) membutuhkan temperatur yang sesuai dengan persyaratan pekerjaan agar material dapat dihampar dan dipadatkan secara optimal.

Namun, dugaan mengenai temperatur material maupun tingkat kepadatan hasil pekerjaan tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan visual. Hal itu membutuhkan pemeriksaan atau pengujian teknis di lapangan untuk mengetahui apakah pelaksanaan pekerjaan telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah jarak pengangkutan material. Berdasarkan informasi yang dihimpun, jarak menuju lokasi pekerjaan sekitar 195 kilometer dengan waktu tempuh berkisar 4,5 hingga 5 jam.

Baca Juga:  Kapolres Parimo Tegaskan Pancasila Jadi Penuntun Hidup dalam Upacara Hari Kesaktian

Jarak dan waktu tempuh tersebut dinilai perlu menjadi perhatian dalam pekerjaan yang menggunakan campuran aspal panas. Sebab, menurut prinsip pelaksanaan pekerjaan aspal, temperatur material saat tiba di lokasi harus tetap berada dalam rentang yang dipersyaratkan agar proses penghamparan dan pemadatan dapat berlangsung sesuai ketentuan.

Selain itu, warga juga menyoroti sejumlah titik jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan dan kemudian ditangani melalui pekerjaan tambal sulam. Mereka berharap bagian yang akan ditambal dipersiapkan dengan baik sehingga hasil pekerjaan tidak kembali menimbulkan permukaan yang tidak rata dan berpotensi mengganggu pengguna jalan.

Sorotan warga tersebut muncul karena pekerjaan pemeliharaan jalan nasional diharapkan mampu memberikan permukaan jalan yang lebih aman dan nyaman. Warga juga meminta kualitas pekerjaan diperhatikan agar hasil perbaikan dapat bertahan dan tidak cepat mengalami kerusakan kembali.

Baca Juga:  Jaga Stabilitas Desa, DPRD Parimo Fasilitasi Mediasi Konflik Warga dan Kades Sigenti

Dikonfirmasi melalui telepon, Selasa (29/9/2026) malam, pemilik PT Sapta Unggul, Rudi Candra, mengatakan pihaknya akan kembali memperbaiki bagian jalan yang dinilai bermasalah.

“Mana jalan yang rusak itu akan diperbaiki kembali,” kata Rudi.

Saat ditanyakan mengenai bagian jalan yang berlubang dan proses pembobokan atau pemotongan sebelum dilakukan penambalan, termasuk informasi mengenai pengguna jalan yang mengalami kecelakaan di Desa Uevolo, Kecamatan Siniu, Rudi mengatakan tindakan tersebut bukan atas perintahnya.

“Saya tidak pernah perintahkan untuk melubang jalan sebelum mau dikerjakan. Saya meminta agar segera malam ini seluruh lubang ditutup,” pungkasnya.

Laporan: Tommy Noho