Perempuan Pahlawan Perdamaian Pascakonflik Poso

oleh -177 Dilihat
oleh
Perempuan Pahlawan Perdamaian Pascakonflik Poso
Seorang Muslim, penjual ikan keliling, Bu Sarino, saat melayani pelanggan setianya yang beragama Kristen di wilayah Kecamatan Poso Pesisir. Foto: KONTEKSSULAWESI/Basrul Idrus

POSO, KONTEKS SULAWESI Di suatu pagi yang masih basah oleh tetesan embun di Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, langkah seorang perempuan Muslim paruh baya terdengar menyusuri tanah berjalan menjajakan ikan dagangannya.

Sebuah loyang berwarna cokelat yang berisi ikan segar di atas kepalanya, tergoyang pelan mengikuti ayunan tubuhnya. Begitulah keseharian Bu Sarino, jauh sebelum kata konflik menjadi bagian dari kehidupan warga Poso.

Hingga tahun 2000, ketika gelombang kekerasan melanda Poso, desa-desa khususnya di Kecamatan Poso Pesisir mulai membatasi diri, garis-garis tak kasat mata terbentuk, dan ketakutan menjelma aturan baru yang tak tertulis. Saat konflik tersebut sebagian orang memilih berdiam di kediaman dan mengungsi. Tak ada yang berani menembus batas desa. Namun, di tengah kecemasan itu, Bu Sarino, dengan loyang berisi ikan yang dijunjung di atas kepala, memutuskan untuk terus melangkah.

“Ini untuk bertahan hidup. Kalau begini terus, kita tidak bisa hidup, sama saja dengan mati. Kalau terjadi apa-apa, saya serahkan saja kepada Allah SWT,” ujar Bu Sarino, mengingat masa ketika ketakutan menjadi udara yang dihirup warga setiap hari.

Perjalanan Melintasi Ketakutan

Tujuan utama tempat Bu Sarino menjual ikan adalah Desa Kasiguncu, berjarak sekitar 15 kilometer dari desanya. Ia memilih desa ini karena terdapat empat keluarga dari pihak suaminya. Walau hutan dan kebun yang ia lewati menyimpan jejak kekerasan, Sarino menolak tunduk pada rasa gentar. Ia hanya memegang satu keyakinan sederhana: ikan-ikannya pasti habis terjual.

Baca Juga:  Banjir di Sungai Lasatu Kabupaten Buol Seret Dua Warga

Ketika memasuki gerbang Desa Kasiguncu, jantungnya berdetak lebih cepat. Sunyi yang tercipta seperti menyimpan kemungkinan buruk. Namun hanya sesaat, sekelompok ibu-ibu dan warga Kristen berhamburan keluar dari rumah mereka. Bukan untuk mengusir, melainkan memeluk.

“Banyak yang memeluk saya. Mereka pikir saya sudah tidak akan menjual ikan kepada mereka lagi,” tutur Bu Sarino.

Di tengah konflik yang memecah komunitas, pelukan itu menjadi isyarat bahwa hubungan antarmanusia lebih kuat dari kabar kebencian yang beredar. Hari itu, ikan Bu Sarino ludes terjual. Ia menghabiskan waktu berbincang dengan para pelanggan lamanya, tertawa dan bertukar cerita, seolah mencoba menambal sobekan-sobekan perjumpaan yang hilang selama masa genting. Karena terlalu larut berbincang, ia terlambat pulang. Sementara warga di pengungsian, mulai gelisah.

Kepulangan yang Mengubah Banyak Hal

Menjelang malam, ketika Sarino akhirnya muncul di pintu pengungsian Desa Tokorondo, sorak lega pun pecah. Wajah-wajah tegang seketika berubah menjadi senyum, disusul derasnya pertanyaan. Semua warga ingin tahu apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, apa yang sebenarnya terjadi di desa “seberang batas” itu. Jawaban Bu Sarino sederhana: tidak ada kisah seram seperti yang dibayangkan. Saya justru disambut, dipeluk, dan dianggap keluarga.

Cerita itu menyebar cepat. Dari bisik di posko pengungsian, menjadi kabar baru yang mengubah cara orang memandang situasi Poso yang masih berkecamuk. Bahwa tidak semua kabar buruk adalah benar. Bahwa ada orang-orang di desa lain yang juga merindukan kedamaian.

Baca Juga:  Aksi Bunuh Diri Pria Paruh Baya di Banggai Berhasil Digagalkan

Ikan, Percakapan, dan Jembatan Antarkomunitas

Keesokan harinya, Bu Sarino tidak lagi berjalan sendiri. Para penjual ikan keliling lain kebanyakan perempuan, memutuskan untuk bergabung. Mereka menembus batas antarwilayah, berdagang sambil membuka percakapan-percakapan kecil yang justru menjadi jembatan besar: dari komunitas Muslim ke komunitas Kristen, atau sebaliknya.

Kecurigaan yang selama ini mengeras di hati warga perlahan mencair. Pelanggan mereka, yang sebelumnya takut untuk berinteraksi, kini mulai mengulang rutinitas lama. Membeli ikan sambil bertukar kabar.

Sarino memahami satu hal penting dari setiap pertemuan itu: “Semua orang, apapun agamanya, tetap butuh makan. Tetap butuh ikan.” Bahkan ucapan “kami pikir kalian tidak akan datang lagi” yang berulang kali ia dengar di desa-desa mayoritas beragama Kristen, bukan sekadar kekhawatiran. Itu adalah ungkapan rindu akan normalnya hidup, rindu kebersamaan. Dan setiap kali mendengarnya, curiga yang sebelumnya menghuni hatinya ikut luruh.

Perempuan Penjaja Ikan, Pembawa Pesan Damai

kisah yang dibawa dari mulut ke mulut oleh para perempuan penjual ikan itulah yang perlahan menumbuhkan kepercayaan di antara komunitas, mendorong warga untuk saling mengunjungi, dan akhirnya menjadi fondasi bagi bangkitnya perdamaian di Poso.

Tanpa disadari, pesan yang dibawa dari mulut ke mulut oleh para penjual ikan keliling ini berubah menjadi kabar baik antardesa. Mereka memberi tahu bahwa wilayah yang mereka lewati aman. Bahwa warga Kristen dan Muslim di sana tidak saling menyerang. Bahwa kabar kebencian yang beredar tak sepenuhnya benar.

Baca Juga:  PDIP Pilih Oposisi, Tolak Pilkada Lewat DPRD

Kisah para perempuan yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya itu, menular bak aliran air yang menghapus panasnya api. Para pedagang lain pun mulai berani membuka usaha kembali. Mereka juga sudah mulai aktif saling kunjung-mengunjungi, yang sebelumnya mustahil dilakukan, perlahan kembali terjadi.

Percakapan-percakapan sederhana di bawah atap dapur, tawa kecil di tengah transaksi jual beli, dan keberanian untuk melangkah di masa gelap, semua itu menjelma menjadi fondasi kepercayaan baru antara komunitas yang pernah retak.

Di Poso, para perempuan penjual ikan seperti Bu Sarino mungkin tak pernah menyebut diri mereka pahlawan. Namun sejarah damai di Tanah Poso mencatat mereka sebagai garda terdepan: perempuan yang berjalan melintasi bahaya, membawa ikan dan keberanian, lalu pulang dengan kabar bahwa manusia sejatinya ingin hidup rukun. Bahkan, dari mereka juga yang menyampaikan kabar bahwa komunitas kristen dan muslim tidak saling benci.

Dari langkah-langkah sederhana itulah, mereka menyampaikan pesan yang lebih besar bagi kita semua, bahwa perdamaian lahir dari keberanian, kesabaran, dan kepedulian. Bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling percaya, saling mengunjungi, dan membangun harmoni dalam kehidupan bersama.

Laporan : Basrul Idrus