MALANG, KONTEKS SULAWESI – Kota Malang kembali membuktikan diri sebagai kota yang progresif dalam pengelolaan pembangunan. Tidak hanya sukses mengadopsi skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), Malang juga meraih penghargaan Kota Terbaik Delineasi Perkotaan pada peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) ke-17 tahun 2025 yang digelar Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Prestasi itu menjadi alasan kuat bagi Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memilih Malang sebagai rujukan studi banding. Rombongan dipimpin langsung Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid, dan diterima secara resmi di Pendopo Balai Kota Malang, Senin (22/9/2025).
“Seperti Kota Malang, Parigi Moutong juga memiliki potensi dan tantangan serupa: kebutuhan perumahan layak bagi masyarakat dan aset lahan pemerintah yang harus dimanfaatkan optimal. Kami percaya model KPBU adalah jawaban strategis, dengan prinsip gotong royong antara pemerintah dan swasta,” ujar Abdul Sahid.
Dalam rombongan turut hadir Ketua Komisi III DPRD Parigi Moutong Mastullah beserta anggota Komisi III, Asisten Administrasi Umum Yusnaeni, Kadis Kominfo Enang Pandake, Kadis Lingkungan Hidup Siti Maryam, Kabag Tapem Ervian Aksa Yoza, serta Plt. Kadis Perumahan Andre Wijaya. Dari pihak Pemkot Malang, hadir Kepala Bapelitbangda, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman, Kepala BPKAD, dan sejumlah pejabat terkait.
Asisten II Pemkot Malang, Ir. Diah Ayu Kusuma Dewi, MT, yang mewakili Wali Kota, menjelaskan arah pembangunan kota dirumuskan melalui visi Menuju Malang Mbois dan Bergelang Mbois. Istilah “Mbois” bukan sekadar berarti keren, melainkan akronim dari Mandiri, Berbudaya, Optimis, Indah, Sejahtera, Berkelanjutan, Kolaboratif, Efisien, Lestari, Adaptif, dan Sinergis.
“Visi itu kami turunkan ke empat misi utama, yakni penguatan SDM, peningkatan perekonomian dan kesejahteraan, pembangunan lingkungan perkotaan berkelanjutan, serta tata kelola pemerintahan yang baik,” ungkap Diah Ayu.
Sejalan dengan itu, Pemkot Malang merancang 10 program unggulan bertajuk Dasar Bhakti Unggulan seperti Ngalam Pinter, Ngalam Tahir, Ngalam Nyaman, Ngalam Ricik, hingga Ngalam Santun. Di sektor perumahan, bantuan Rp20 juta per unit diberikan bagi 50 rumah masyarakat berpenghasilan rendah, serta pembahasan Ranperda Bangunan Gedung untuk memperkuat tata kelola pembangunan lokal.
Studi banding ini diawali audiensi resmi dan seremoni pertukaran cindera mata sebagai simbol kolaborasi kedua daerah. Selanjutnya, rombongan Pemkab Parigi Moutong meninjau Perumahan PNS dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Malang guna melihat praktik nyata pengelolaan kawasan permukiman dan lingkungan.
Lebih dari sekadar pertukaran informasi, kunjungan ini diharapkan membuka jalan kerja sama strategis antar daerah.
“Dengan semangat kolaborasi, setiap daerah akan mampu menghadirkan kebijakan yang solutif, inovatif, dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. Kami juga mengajak rombongan menikmati kuliner, heritage, hingga oleh-oleh khas Malang. Dengan begitu, selain pertukaran pengetahuan, roda ekonomi lokal ikut bergerak,” pungkasnya.
Sumber: Prokopim Parigi Moutong








