PARIMO, KONTEKS SULAWESI – Pengakuan blak-blakan seorang pekerja tambang tanpa izin (PETI) bernama Rusli membuka peta operasi alat berat di Desa Sipayo, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawsi Tengah. Ia membeberkan siapa saja yang masih beroperasi, siapa yang mandek, dan bagaimana para pelaku berburu solar di tengah kelangkaan.
“Saya sendiri masih bekerja. Baru naik alat ekskavator tiga hari lalu,” ujar Rusli saat di konfirmasi media ini Via Telpon beberapa waktu lalu.
Menurut Rusli, selain dirinya ada beberapa nama lain yang masih aktif, Waris, Hamka, Candra, dan Yusuf. Soal Waris dan Hamka, ia memastikan keduanya tetap beroperasi. Hanya saja, Hamka disebut baru bisa bekerja kembali karena alat beratnya rusak berulang selama tiga bulan terakhir.
“Baru jalan satu dua hari, alat pengganti Hamka rusak lagi,” katanya.
Rusli menambahkan, Waris masih satu kelompok dengan rekannya bernama Ontet. Sementara Tenong disebut sudah berhenti karena kesepakatan kerja yang tak terpenuhi. Yusuf, kata Rusli, sempat turun dari lokasi karena hasil tak maksimal. Kini ia bersiap kembali bekerja, namun masih tertahan masalah solar.
Di lapangan, masalah bahan bakar menjadi ganjalan terbesar. Rusli mengaku kesulitan mendapat BBM jenis solar untuk menyalakan ekskavator. Hari ini ia hanya mampu membeli dexlite untuk menutup kebutuhan operasi satu hari.
“Besok mungkin tidak jalan lagi. Solar susah sekali,” pungkasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM, Rusli mengaku mendapat suplai dari calo-calo di dua SPBU, Kasimbar dan Tinombo. Ia tak pernah menetap di satu titik, hanya mengikuti ketersediaan solar di lapangan. Jika keduanya kosong, dexlite jadi satu-satunya pilihan.
“Tadi saja solar tidak ada. Tanya teman-teman juga kosong. Makanya terpaksa pakai dexlite,” tutup Rusli.
Laporan: Tommy Noho











