PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Di tengah memanasnya isu tambang ilegal di Sipayo, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), satu nama warga setempat tiba-tiba diseret sebagai pengendali alat berat. Rifai, warga Desa Sipayo, membalas tudingan itu dengan nada tegas, menolak mentah-mentah dugaan peran yang disebut-sebut melekat padanya.
Rifai menegaskan dirinya bukan operator, apalagi pengendali alat berat ekskavator yang memasukan alat tersebut untuk melakukan operasi pada pertambangan ilegal tanpa izin (PETI) di wilayah Sipayo. Ia menyebut tuduhan itu keliru dan tidak berdasar.
“Saya hanya tahu siapa saja cukong yang main di PETI Sipayo, tapi bukan saya pengendalinya,” ujarnya saat dikonfirmasi lewat telepon beberapa waktu lalu.
Rifai menjelaskan, tudingan bahwa ia mengatur pergerakan alat tambang sangat tidak masuk akal. Ia mengaku hanya warga biasa yang paham kondisi di atas lokasi PETI karena tinggal di Desa Sipayo.
“Kalau saya yang kendalikan, nanti saya yang bentrok dengan aparat penegak hukum. Tidak masuk di akal kalau saya yang kendalikan,” katanya.
Rifai bahkan menyebut bahwa ia memang mengenal sejumlah pengusaha tambang, salah satunya Waris, karena pernah berada dalam satu tim pemenangan bupati di masa lalu. Namun, ia membantah keras keterlibatannya dalam aktivitas pengendalian alat berat.
Dalam penjelasannya, Rifai menyebut beberapa nama yang disebut-sebut beroperasi di wilayah PETI Sipayo. “Orang-orang lama,” kata dia, merinci Rusli, Yusuf, Bastian, Candra, Ijul, dan Hamka. Ia juga menyebut jenis alat berat yang beroperasi, Komatsu, Hitachi, dan Kobelco yang baru masuk. Total, menurutnya, sekitar tujuh unit alat bekerja di lokasi itu.
Rifai menyatakan tuduhan terhadap dirinya semakin tidak masuk akal karena alat-alat tersebut bahkan melintas melalui Dusun Siage, Desa Sigega Bersehati, Kecamatan Tinombo Selatan, jauh dari kendalinya sebagai warga Sipayo.
Ia menambahkan, kedekatannya dengan Waris pun bukan alasan untuk menyimpulkan ia terlibat dalam aktivitas PETI.
“Kalau Waris sering datang ke rumah, itu hal biasa. Tidak mungkin saya melarang orang datang, apalagi sama-sama orang Parigi Moutong,” pungkasnya.
Bahkan, ia menyuruh media ini untuk mengkonfirmasi Kepala Desa Sipayo Nurdin Ilo ilo sebagai pemerintah desa.
Laporan: Tommy Noho











