PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Gelombang panas polemik tambang ilegal di Sipayo, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) kembali meletup. Di tengah silang-sengkarut tuduhan soal ekskavator yang mondar-mandir di kawasan PETI, adu suara antara Kepala Desa (Kades) dan seorang warga, Rifai, berubah menjadi drama saling telunjuk yang tak kunjung padam.
Ketegangan meningkat ketika Rifai, warga Sipayo yang ikut terseret dalam tudingan aktivitas PETI, balik menantang pernyataan Kades.
“Susah kalau kades mau menyalakan kami sebagai masyarakat biasa, karena Pemerintah Desa (Pemdes) jadi aktor di balik semua ini,” ujar Rifai lewat pesan WhatsApp.
Ia mempertanyakan keberanian sang Kades menyebut nama dirinya namun tak menyentuh nama-nama lain yang dinilainya justru lebih dekat dengan lingkar aktivitas tambang.
“Kenapa Kades tidak sebut Candra, Bastian? Candra kontrak rumah mamanya Kades, Bastian kontrak rumah di depan rumah Kades waktu pertama masuk,” tegasnya.
Rifai bahkan menuding adanya kedekatan antara para pemasok alat dengan Kades. Ia menguatkan klaimnya dengan sebuah video yang dikirim ke redaksi, memperlihatkan Kades tengah makan bersama salah satu pemasok. Rekaman itu, menurut Rifai, menjadi bukti bahwa hubungan mereka bukan sekadar kenal, melainkan erat dan saling berkait.
“Lihat saja itu Candra, ada makan bersama dengan Pak Kades. Ini baru bukti kecil yang saya perlihatkan,” pungkasnya.
Saling tuding mencuat setelah nama Rifai disebut sebagai pengendali ekskavator yang beroperasi di tambang tanpa izin. Namun bantahan Rifai justru makin keras ketika dimintai klarifikasi.
Sementara itu, Kepala Desa Sipayo, Nurdin Ilo Ilo, memiliki versi berbeda. Ia menegaskan Rifai merupakan salah satu pihak yang ikut memasukkan alat berat ke lokasi PETI.
“Awalnya dia memasukkan alat milik Waris. Termasuk alat Hamka dan Iwan, dia juga yang masukkan. Bahkan informasi terbaru, ada alat baru masuk, dia juga yang antar,” kata Nurdin.
Saat Media ini bertandang kerumah Kades, ia menyebut kerusakan kawasan tambang makin parah, sehingga ia merasa perlu menjelaskan dengan rinci posisi rumah Rifai agar tidak ada salah identifikasi saat media ini melakukan penelusuran.
“Saya hanya jelaskan apa yang saya tahu, termasuk siapa yang masukkan alat,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho









