Rebah di Antara Asap, Tubuh-Tubuh Letih Petugas Damkar di Tanah Hangus Avolua

oleh -348 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Parigi Moutong tergeletak kelelahan di teras bangunan dan tanah kosong usai berjam-jam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Desa Avolua, Selasa (3/2/2026) dini hari. Dengan peralatan terbatas dan minim dukungan pencegahan, tubuh petugas kembali menjadi benteng terakhir menghadapi karhutla yang berulang, saat sistem penanganan datang terlambat. Foto: Tommy Noho
Keterangan Foto: Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Parigi Moutong tergeletak kelelahan di teras bangunan dan tanah kosong usai berjam-jam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Desa Avolua, Selasa (3/2/2026) dini hari. Dengan peralatan terbatas dan minim dukungan pencegahan, tubuh petugas kembali menjadi benteng terakhir menghadapi karhutla yang berulang, saat sistem penanganan datang terlambat. Foto: Tommy Noho

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Kebakaran hutan dan lahan kembali berulang di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Di Desa Avolua, Selasa dini hari, 3 Februari 2026, petugas Pemadam Kebakaran harus merebahkan tubuh di tanah setelah berjam-jam melawan api di medan terjal, minim air, dan tanpa dukungan memadai. Peristiwa ini kembali menyingkap rapuhnya kesiapsiagaan penanganan karhutla yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Api mulai menyala sejak petang 2 Februari 2026 dan terus membesar hingga melewati tengah malam. Di lereng dan semak kering Desa Avolua, si jago merah melahap puluhan hektare hutan dan lahan milik warga. Angin kencang dan kontur perbukitan membuat api merambat cepat, menyulitkan upaya pemadaman.

Dari pantauan media ini, Dalam kondisi gelap dan akses terbatas, personel Pemadam Kebakaran Kabupaten Parigi Moutong harus bekerja nyaris tanpa jeda. Mereka memikul selang, menyusuri lereng curam, dan memadamkan titik api secara manual satu per satu. Keterbatasan sumber air memaksa petugas mengandalkan teknik pemadaman darurat agar api tidak menjalar ke permukiman.

Baca Juga:  Ternyata Ini Maksud dari Program “Bunga Desa” Paslon BERSINAR

Sejumlah petugas dilaporkan terjatuh dan tersungkur di lereng berbatu akibat kelelahan. Namun mereka bangkit kembali, masuk ke kepulan asap, dan melanjutkan pemadaman. Tidak ada ruang untuk mundur. Api harus dihentikan sebelum menjalar ke kebun warga dan rumah penduduk.

Menjelang pukul 02.30 Wita, kelelahan mencapai batas. Beberapa petugas terlihat merebahkan tubuh di tanah dan lorong bangunan darurat. Helm, jaket, dan tas kerja dijadikan alas. Wajah mereka menghitam oleh asap, napas tersengal, mata terpejam hanya untuk sejenak. Bukan tanda menyerah, melainkan jeda singkat untuk bertahan.

Baca Juga:  Massa Membludak Hadiri Kampanye Paslon BERANI di Eks Sail Tomini

Di balik seragam yang basah oleh keringat dan debu arang, tersimpan kerja sunyi yang jarang terlihat. Petugas berjaga saat warga terlelap, memadamkan api dengan peralatan seadanya, dan mempertaruhkan keselamatan demi mencegah kebakaran meluas.

Peristiwa di Avolua kembali menegaskan pola lama penanganan karhutla di Parigi Moutong, kebakaran datang lebih cepat dibanding kesiapan sistem. Tanpa pencegahan serius, peralatan memadai, dan penguatan mitigasi di tingkat desa, api akan terus berulang, dan petugas kembali menjadi garis terakhir yang menanggung risiko.

Malam di Avolua menjadi saksi. Perlawanan itu tidak heroik di panggung seremonial, tetapi nyata di tanah yang hangus, saat daerah kembali terlambat hadir di garis depan bencana.

Baca Juga:  Jaga Kamtibmas, Kapolres Parimo Sambangi Polsek Parigi

Laporan: Tommy Noho