PARIMO, KONTEKS SULAWESI – Hujan deras yang mengguyur Kota Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) selama enam jam membuat sejumlah rumah warga dan ruas jalan utama terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter. Minimnya saluran pembuangan menuju laut serta tingginya endapan di drainase memperparah genangan yang melumpuhkan aktivitas warga.
Nadja, warga Kelurahan Bantaya, mengungkapkan bahwa air hujan tak kunjung surut karena aliran pembuangan menuju laut hanya tersedia di tiga titik. Kondisi itu membuat wilayah Kelurahan Bantaya dan Kampal kerap menjadi langganan banjir.
“Curah hujan tinggi ditambah endapan dan minimnya titik pembuangan membuat air masuk ke rumah warga. Kami sudah sering mengeluh, tapi belum ada perubahan,” ujarnya kepada media ini, Sabtu (27/09/2025).
Situasi semakin buruk di wilayah Kampal Pantai. Saluran pembuangan sudah tak mampu menampung volume air, sehingga alirannya justru meluap ke Bantaya. Kanal yang seharusnya menjadi penampungan air kini tidak berfungsi karena dipenuhi eceng gondok dan lumpur yang mengeras.
“Kanal itu mestinya bisa menahan limpahan, tapi sekarang sudah tertutup eceng gondok. Akhirnya air mencari jalan lain dan meluber ke pemukiman,” keluhnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan melakukan normalisasi kanal yang membentang di dua kelurahan tersebut. Selain itu, pembersihan endapan di drainase dinilai mendesak agar air hujan tidak lagi meluap ke jalan dan rumah warga.
“Normalisasi kanal dan perbaikan drainase harus menjadi prioritas, kalau tidak banjir akan terus berulang setiap kali hujan deras,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho








