PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Sebuah karya sastra menggugah lahir dari tangan seorang guru di pelosok Parigi Moutong (Parimo). Supriyadi, S.Pd., Gr., guru SMA Negeri 1 Sidoan, menulis puisi bertajuk “Tanah Pusaka”, seruan lirih namun tegas tentang cinta tanah air dan semangat menjaga warisan para pahlawan.
Dalam bait-baitnya, Supriyadi menegaskan bahwa setiap jengkal tanah Indonesia adalah tetesan darah para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan. Darah itu, katanya, bukan sekadar simbol perjuangan, tetapi kehidupan bagi bangsa yang merdeka.
“Setiap jengkal tanah Indonesia adalah tetesan darah para pahlawan, yang menetes di bumi pertiwi agar kelak tumbuh kemerdekaan,” tulisnya penuh makna.
Puisi tersebut juga menyuarakan pesan agar generasi muda tidak lupa menjaga kehormatan negeri. Baginya, tanah pusaka bukan hanya warisan leluhur, tetapi amanah yang harus dijaga dengan jiwa dan raga.
“Setiap jengkal tanah Indonesia adalah warisan suci para leluhur, yang menanam harkat dan martabat dalam nadi bangsa yang tak boleh tunduk,” kutipnya dalam salah satu bait.
Melalui karyanya, Supriyadi mengajak masyarakat untuk kembali menyalakan semangat nasionalisme yang mulai pudar di tengah arus modernisasi. Ia menutup puisinya dengan seruan penuh semangat:
“Wahai anak bangsa, jangan biarkan tanah pusaka ini ternoda, karena di setiap butir pasirnya tersimpan doa, harapan, dan darah merdeka.”
Dengan lantang, sang guru menegaskan:
“Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…!”, pekik yang menggetarkan, mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sekadar sejarah, melainkan napas kehidupan bangsa.***








