Ina Tobani Tiku, Penjaga Terakhir Kain Kulit Kayu Kulawi

oleh -4631 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Ina Tobani Rinyo Tiku (kiri dan kanan foto) memperlihatkan piagam penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025. Maestro kain kulit kayu asal Lembah Kulawi, Sulawesi Tengah, itu didampingi anak perempuanya Mulvida Tiku saat menerima pengakuan negara atas pengabdiannya melestarikan tradisi kain kulit kayu yang diwariskan lintas generasi. Foto: Amar.
Keterangan Foto: Ina Tobani Rinyo Tiku (kiri dan kanan foto) memperlihatkan piagam penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025. Maestro kain kulit kayu asal Lembah Kulawi, Sulawesi Tengah, itu didampingi anak perempuanya Mulvida Tiku saat menerima pengakuan negara atas pengabdiannya melestarikan tradisi kain kulit kayu yang diwariskan lintas generasi. Foto: Amar.

SIGI, KONTEKS SULAWESI Pengakuan negara datang ketika usia Ina Tobani Rinyo Tiku memasuki 85 tahun. Perempuan dari Lembah Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, itu dinobatkan sebagai Maestro Seni Tradisi dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025, setelah lebih dari tujuh dekade mengabdikan hidupnya pada kerajinan kain kulit kayu. Penghargaan ini menegaskan posisinya sebagai salah satu penjaga terakhir tradisi yang berakar ribuan tahun di wilayah pegunungan Sulawesi Tengah.

Sejak 1957, Ina Tobani mempelajari teknik membuat kain kulit kayu dari ibu dan neneknya. Pengetahuan itu diwariskan secara lisan dan praktik harian, dari generasi ke generasi, di dalam keluarga. Hingga kini, di usianya yang senja, ia masih menggantungkan hidup dari kerajinan tersebut karena tak lagi kuat bekerja di kebun.

“Ibu sudah belajar sejak kecil. Dari nenek, lalu ke ibu, kemudian ke kami anak-anaknya,” kata Mulvida Tiku, putri Ina Tobani, saat ditemui di puncak Mataue.

Baca Juga:  Begini Cara Pemkab Parigi Moutong Bantu UMKM Naik Kelas

Keterbatasan fisik tak menyurutkan peran Ina Tobani sebagai penggerak komunitas. Ia membentuk kelompok pengrajin di Desa Mataue, Kulawi, dan melatih warga tanpa memungut bayaran. Bagi Ina Tobani, keberlanjutan tradisi lebih penting daripada keuntungan pribadi.

“Yang paling ibu takutkan bukan soal usia, tapi kalau tidak ada lagi yang bisa meneruskan,” ujar Mulvida menirukan pesan sang ibu.

Proses pembuatan kain kulit kayu Kulawi menuntut ketekunan dan pengetahuan alam. Bahan utama diambil dari kulit kayu beringin muda atau ranunu, yang dipukul hingga melebar, dijemur, lalu diawetkan dengan getah pohon ula. Kain kemudian dibentuk menjadi pakaian adat, sering dihias dengan warna alami dari lumpur atau kulit kayu lain.

Baca Juga:  Hadiri Hari Lahir RAPI Sulteng ke 44, Berikut Pesan Sudaryano

“Semua bahan diambil dari alam sekitar. Itu sebabnya ibu selalu mengingatkan agar hutan dijaga,” kata Mulvida.

Bagi Ina Tobani, kain kulit kayu bukan sekadar komoditas ekonomi. Di dalamnya terkandung pandangan hidup masyarakat Kulawi tentang keseimbangan manusia dengan alam dan Tuhan. Nilai-nilai itu ia tanamkan kepada setiap murid yang belajar di rumahnya, menjadikan kerajinan ini sebagai identitas budaya Sulawesi Tengah yang hidup, bukan sekadar artefak museum.

Penghargaan Maestro Seni Tradisi dari negara menjadi penanda penting atas kerja sunyi Ina Tobani selama puluhan tahun. Namun bagi keluarganya, pengakuan terbesar adalah ketika generasi muda mulai kembali memukul kulit kayu, menjemurnya di halaman rumah, dan mengenakan hasilnya dengan bangga.

Baca Juga:  Warga Parimo Cemas Tambang Ilegal Ancam Panen Cengkeh

“Penghargaan ini bukan akhir, tapi penguat agar warisan ibu tetap berjalan,” kata Mulvida Tiku, pungkasnya.

Laporan: Tommy Noho