Warga Parimo Cemas Tambang Ilegal Ancam Panen Cengkeh

oleh -692 Dilihat
oleh
Seorang warga di Kecamatan Sigenti Selatan, Kabupaten Parimo, tengah menjemur cengkeh hasil panen di halaman rumahnya. Musim panen raya menjadi sumber utama penghasilan petani setempat di tengah ancaman aktivitas tambang ilegal yang merusak akses pertanian. (Foto: KONTEKS SULAWESI).
Seorang warga di Kecamatan Sigenti Selatan, Kabupaten Parimo, tengah menjemur cengkeh hasil panen di halaman rumahnya. Musim panen raya menjadi sumber utama penghasilan petani setempat di tengah ancaman aktivitas tambang ilegal yang merusak akses pertanian. (Foto: KONTEKS SULAWESI).

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Kekhawatiran mulai muncul di tengah masyarakat Kecamatan Tinombo Selatan dan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), saat dua wilayah itu memasuki masa panen raya cengkeh. Aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) yang marak di sekitar wilayah tersebut dikhawatirkan akan merusak potensi pertanian dan akses ekonomi warga.

Salah satu wilayah yang sudah terdampak adalah Desa Lado di Kecamatan Sidoan. Jalan pertanian yang menjadi urat nadi pengangkutan hasil bumi kini rusak parah akibat aktivitas tambang.

“Aktivitas PETI bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga memutus akses ekonomi warga,” kata Camat Sidoan, Muamar, kepada Konteks Sulawesi, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  APDURIN: Dukungan Penuh untuk Durian Nusantara

Muamar menuturkan, sebelum tambang ilegal muncul, warga Desa Lado bisa mengangkut hasil bumi seperti cengkeh dan kakao hingga tiga kali sehari. Namun kini, kata dia, sekali saja sudah sulit, apalagi memasuki musim penghujan.

“Dulu masyarakat bisa bolak-balik membawa hasil panen. Sekarang jalan rusak berat, apalagi kalau hujan,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga datang dari warga Tinombo Selatan. Fadil, warga Sigenti Selatan, mengaku cemas jika aktivitas tambang tersebut meluas hingga wilayah mereka. Ia khawatir akses jalan pertanian di Tinombo Selatan ikut rusak, padahal saat ini petani tengah menikmati hasil panen cengkeh yang melimpah.

Baca Juga:  FPK Desak DPRD dan Polres Bongkar Aktor di Balik Tambang Ilegal Sipayo

“Pemerintah harus mewaspadai aktivitas PETI ini. Kalau dibiarkan, petani cengkeh yang jadi korban,” ujarnya kepada Konteks Sulawesi, Jumat (24/10/2025).

Menurut Fadil, pertanian cengkeh sudah menjadi mata pencaharian turun-temurun yang hasilnya jelas dan stabil. Ia mengaku mampu memanen ratusan kilogram cengkeh pada musim panen antara, dan tahun ini, saat panen raya, hasilnya diperkirakan jauh lebih besar.

Ia berharap, pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas untuk mencegah meluasnya tambang ilegal yang bisa mengancam sumber penghidupan masyarakat.

“Cengkeh sudah terbukti menyejahterakan warga. Jangan biarkan tambang merusak harapan petani,” pungkasnya.

Baca Juga:  309 Personel Polda Sulteng di Turunkan Amankan Pelantikan Anggota DPRD

Laporan: Rizky Noho