PARIMO, KONTEKS SULAWESI – Pemerintah Daerah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melalui Bappelitbangda mencatat penurunan signifikan angka stunting pada tahun 2024, yang kini berada di angka 22,3 persen. Keberhasilan ini tak lepas dari peran aktif masyarakat dalam mendukung program-program kesehatan dan gizi yang dijalankan pemerintah.
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak, terutama tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya. Dalam beberapa tahun terakhir, isu ini menjadi perhatian utama pemerintah pusat hingga daerah karena dampaknya terhadap kualitas generasi mendatang.
“Alhamdulillah di tahun 2024 kemarin, angka stunting di Kabupaten Parigi Moutong menurun sebanyak 6,2 persen,” ujar Ince Pina, Kepala Bidang Sosial Budaya pada Bappelitbangda Parigi Moutong, di Parigi, Kamis (12/6/2025).
Ia menuturkan bahwa penurunan angka stunting tersebut merupakan hasil dari langkah strategis lintas sektor, mulai dari kabupaten hingga ke tingkat desa, dengan melibatkan tenaga kesehatan, kader posyandu, dan tokoh masyarakat dalam intervensi gizi langsung kepada keluarga berisiko.
“Berdasarkan data, prevalensi stunting sempat turun dari 31,7 persen pada 2021 menjadi 27,4 persen di 2022. Meskipun sempat naik menjadi 28,5 persen di 2023, angka itu berhasil ditekan kembali menjadi 22,3 persen pada 2024,”
jelasnya.
Dengan demikian dirinya menilai, capaian ini sebagai bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat mampu menghasilkan dampak nyata. Sebagaimana ditandai dengan kesadaran orang tua terhadap pentingnya asupan gizi, kebersihan lingkungan, serta akses ke layanan kesehatan menjadi faktor penentu dalam penanganan stunting.
Meski begitu, Ince mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah saja.
“Stunting ini memang perlu perhatian juga dari masyarakat, bukan hanya pemerintah saja. Jika hanya dibebankan kepada pemerintah tanpa kesadaran masyarakat, maka program ini percuma. Karena ini akan sangat berpengaruh pada generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Laporan : Abdul Farid









