PARIMO, KONTEKS SULAWESI – Kanal air pengendali banjir di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), dikeluhkan warga. Alih-alih berfungsi mengalirkan kelebihan air hujan, kanal tersebut justru berubah menjadi sarang nyamuk Anopheles, pembawa parasit malaria.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Mulvida, menegaskan kanal yang tersumbat harus segera dinormalisasi agar tidak menimbulkan genangan. Pasalnya, genangan air menjadi tempat sempurna bagi nyamuk Anopheles untuk berkembang biak.
“Air yang tergenang di kanal yang tersumbat sangat mudah menyediakan lingkungan yang sempurna bagi nyamuk untuk meletakkan telur dan menyelesaikan siklus hidupnya, dari larva menjadi nyamuk dewasa. Makanya adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) ini jadi bahan perhatian kita semua,” kata Mulvida saat dikonfirmasi media ini, Rabu (24/09/2025).
Ia menambahkan, keluhan masyarakat terkait gigitan nyamuk tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, upaya pencegahan malaria dapat dilakukan dengan menjaga kanal tetap bersih dan mengalir.
“Ini berarti secara rutin membersihkan kanal untuk mencegah genangan air, terutama di daerah yang diketahui memiliki kasus malaria atau berisiko tinggi penyebaran nyamuk,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo, Muhammad Rivai, memastikan pihaknya akan melakukan normalisasi kanal di Bantaya. Langkah ini dianggap penting untuk menekan penularan malaria di daerah tersebut.
“Pencegahan ini harus kami lakukan, karena jika tidak dilakukan normalisasi, kanal di Kelurahan Bantaya bakal jadi habitat nyamuk Anopheles, dan akan menambah kasus penularan malaria di Parimo,” tegas Rivai.
Lebih jauh, ia menjelaskan fungsi kanal bukan hanya sebagai pengendali banjir, tetapi juga bagian dari sistem drainase makro yang melindungi pemukiman. Kanal yang bersih dan lancar dinilai mampu mencegah kerusakan lingkungan sekaligus menekan risiko penyakit menular.
“Normalisasi ini bukan hanya mencegah genangan dengan mengalirkan air. Kanal juga mencegah penumpukan air di daerah pemukiman sehingga mengurangi risiko banjir, kerusakan lingkungan, serta peningkatan penularan malaria,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho











