Kepanikan Warga Pecah Saat Api Karhutla Avolua Merambat ke Permukiman

oleh -2344 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Petugas gabungan bersama warga berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Senin (3/2/2026) malam. Api masih menyala dan berada dalam jarak sekitar 200 meter dari permukiman warga serta fasilitas umum, di tengah imbauan larangan pembakaran yang dinilai belum efektif menekan karhutla. Foto: Tommy Noho
Keterangan Foto: Petugas gabungan bersama warga berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Senin (3/2/2026) malam. Api masih menyala dan berada dalam jarak sekitar 200 meter dari permukiman warga serta fasilitas umum, di tengah imbauan larangan pembakaran yang dinilai belum efektif menekan karhutla. Foto: Tommy Noho

PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, terus meluas hingga Selasa (3/2/2026) dini hari. Api belum berhasil dipadamkan dan kini berada dalam jarak berbahaya dari permukiman warga serta fasilitas publik.

Upaya pemadaman dilakukan secara terbatas oleh petugas gabungan Pemadam Kebakaran, Satpol PP, TNI, Polri, dan warga setempat. Namun hingga malam hari, kobaran api masih terlihat aktif, bahkan telah mendekati masjid dan sekolah dasar di Dusun III Desa Avolua, dengan jarak sekitar 200 meter dari rumah warga.

“Imbauan sebenarnya sudah kami sampaikan jauh hari, sekitar tiga minggu sebelum kejadian ini, setelah rapat bersama di BPBD,” kata Camat Parigi Utara, Muhtar, saat ditemui di lokasi kebakaran.

Baca Juga:  Diskominfo Parigi Moutong Sebut Pemanfaatan Teknologi Wajib Patuhi Regulasi

Situasi tersebut memicu kepanikan warga. Sejumlah keluarga memilih berjaga sepanjang malam, termasuk anak-anak dan ibu rumah tangga, demi memastikan api tidak merambat ke rumah mereka. Kondisi ini memperlihatkan lemahnya daya cegah pemerintah di tengah ancaman karhutla yang berulang setiap musim kering.

“Kami sudah sampaikan larangan pembakaran, baik melalui masjid maupun di tempat umum. Cuaca ke depan diprediksi kering dan rawan kebakaran,” ujar Muhtar.

Muhtar menyebutkan, pemerintah kecamatan juga telah menyosialisasikan edaran Bupati Parigi Moutong terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Namun, kebakaran tetap terjadi, menandakan imbauan administratif belum sepenuhnya efektif menekan praktik pembakaran di tingkat tapak.

“Aktivitas apa pun yang menggunakan api, baik di kebun maupun lahan kosong, itu yang kami larang. Tapi faktanya, kejadian seperti ini masih terulang,” katanya.

Baca Juga:  Kajati Sulawesi Tengah Resmi Berganti, Ini Harapan Gubernur Rusdy

Berdasarkan laporan sementara, kebakaran didominasi kawasan hutan dan areal perkebunan di wilayah pegunungan. Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai sekitar 30 hektare. Hingga kini, data rinci mengenai tanaman produktif yang terdampak masih dalam proses pendataan oleh pemerintah kecamatan dan desa.

Melihat api yang belum sepenuhnya padam, Muhtar mengaku telah menginstruksikan para kepala desa dan kepala dusun untuk mengarahkan warga tetap waspada dan berjaga. Instruksi itu disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Parigi Utara, Senin (2/2/2026).

Di sisi lain, Kepala Desa Avolua, Tamsil, mengakui bahwa praktik pembakaran lahan masih dianggap sepele oleh sebagian warga. Padahal, kondisi angin dan cuaca kering membuat api cepat meluas dan sulit dikendalikan.

Baca Juga:  Polres Parimo Peduli, Tahanan Sakit Dijemput Polisi ke RS Anuntaloko

Kebakaran, kata Tamsil, telah berlangsung sejak Minggu malam. Sejumlah warga telah melaporkan kebun mereka terbakar, dengan jenis tanaman terdampak antara lain kakao, durian, cengkeh, mangga, dan kelapa. Namun, hingga kini pemerintah desa belum mengantongi data pasti luas kerusakan.

Ia menegaskan, hingga Selasa dini hari api masih aktif di beberapa titik, dengan satu titik besar berada tepat di belakang Sekolah Dasar Kecil Taripajaya.

“Api masih menyala. Ada beberapa titik, dan satu yang paling besar itu persis di belakang SD Kecil Taripajaya. Kami masih terus bersiaga di lokasi,” tutup Tamsil.

Laporan: Aid Lumpati