PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Rentetan bencana yang terjadi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) belum ditangani secara sistematis dan berdampak nyata bagi warga terdampak. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Desa Avolua hingga merembet ke Desa Uevolo menjadi potret paling gamblang lemahnya kapasitas penanggulangan bencana daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, sebagai leading sector penanganan bencana, dinilai gagal menerjemahkan mandat kebijakan menjadi langkah teknis yang efektif di lapangan. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM), minim strategi, serta absennya intervensi dini membuat penanganan karhutla berjalan lamban dan reaktif.
Dari total personel yang dimiliki BPBD Parigi Moutong, sebagian besar disebut belum memiliki kemampuan teknis memadai dalam mitigasi prabencana maupun penanganan pascabencana. Namun kondisi tersebut tidak diikuti dengan upaya pembenahan yang terukur. Pemerintah daerah justru mempertahankan pola kerja lama dengan dalih penanganan lapangan masih dapat dilakukan secara manual.
Situasi ini terlihat jelas dalam penanganan karhutla di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, yang hingga kini belum berhasil dikendalikan dan telah meluas ke Desa Uevolo, Kecamatan Siniu. BPBD Parigi Moutong hanya mampu melakukan pemantauan dan pengerahan personel gabungan tanpa dukungan strategi pemadaman yang memadai.
Petugas gabungan yang terdiri dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, Damkar, Satpol PP, TNI, Polri, serta masyarakat setempat, dikerahkan memadamkan api dengan peralatan seadanya, tangki semprot, jerigen, dan alat manual lain. Keterbatasan sarana membuat upaya pemadaman hanya dilakukan di titik-titik yang mudah dijangkau, sementara api terus membakar wilayah perbukitan.
Padahal, dalam situasi darurat semacam ini, BPBD sebagai penanggung jawab utama semestinya hadir dengan perencanaan taktis, peta risiko, serta metode pemadaman yang mampu mencegah perluasan kebakaran dan meminimalkan kerugian ekonomi warga.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan mendalam warga terdampak. Saat peninjauan lapangan oleh Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bersama instansi terkait di Desa Avolua dan Desa Uevolo, Kamis (5/2/2026), dua warga, Rina dan Nurjanah, tak kuasa menahan tangis di hadapan para pejabat.
Rina mengungkapkan bahwa warga selama ini memadamkan api secara mandiri, berjuang menyelamatkan kebun dan pondok yang menjadi tumpuan hidup keluarga. Ia menilai pemerintah daerah baru bertindak setelah api terlanjur membesar dan meluas.
“Kami sudah berusaha padamkan sendiri. Tapi pemerintah hanya memantau. Pemadaman baru dilakukan setelah api makin besar,” ujar Rina dengan suara bergetar.
Menurutnya, tanaman yang terbakar merupakan sumber utama penghidupan keluarga. Ia meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata dan serius, serta memberikan perhatian khusus kepada warga yang kehilangan mata pencaharian akibat karhutla.
“Kami mau makan apa kalau semua tanaman habis terbakar. Seharusnya sebelum api membesar sudah ada upaya pemadaman,” katanya.
Warga Desa Uevolo melaporkan ratusan tanaman produktif hangus terbakar, mulai dari durian, alpukat, pala, kakao, hingga cengkeh. Tanaman palawija seperti cabai dan sayuran juga tak luput dari amukan api. Luasan lahan terbakar di wilayah ini diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare dan hingga kini api masih belum sepenuhnya padam.
Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Parigi Moutong, total luas lahan terbakar di Desa Avolua dan Uevolo diperkirakan mencapai 45 hektare. Namun data pantauan satelit milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan kebakaran telah meluas hingga sekitar 90 hektare. Perbedaan data tersebut masih dalam proses verifikasi lapangan.
BPBD Parigi Moutong sendiri telah menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan sejak 30 Januari hingga 29 Februari 2026 di seluruh wilayah kabupaten. Posko terpadu penanganan karhutla dan kekeringan juga didirikan di Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara. Namun, hingga kini, status siaga belum berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas penanganan di lapangan.
Laporan: Aid Lumpati








