PARIMO, KONTEKS SULAWESI — RSUD Raja Tombolotutu di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) berpacu mengejar status rumah sakit Tipe C sekaligus target PAD Rp20 miliar tahun ini. Namun langkah itu tersendat karena belum adanya dokter spesialis anak, yang menjadi syarat utama layanan dasar sekaligus penentu klaim BPJS persalinan.
Manajemen RSUD Raja Tombolotutu menegaskan pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi fokus utama dalam program rumah sakit ke depan. Status Tipe C, kata pihak rumah sakit, mensyaratkan empat layanan dasar, termasuk keberadaan dokter spesialis anak.
Kasubag Umum RSUD Raja Tombolotutu, Muhammad Rum, mengungkapkan saat ini pihaknya masih melobi Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah agar dapat menempatkan dokter anak di Tinombo.
“Untuk sementara dokter anak masih kami lobi melalui Dinas Kesehatan maupun pemda. Di RSUD Parigi ada sekitar tiga dokter anak, kalau bisa satu diberdayakan di sini. Itu planning jangka pendek kami,” ujar Rum.
Selain itu, rumah sakit juga berupaya mencari solusi kebutuhan tenaga kesehatan non-ASN maupun P3K yang jumlahnya mencapai ratusan orang.
“Mereka sudah bekerja di sini, mulai dari dokter umum, perawat, bidan hingga SKM, tapi belum bisa dibiayai daerah karena masa kerja belum dua tahun. Ini jadi PR besar untuk mencarikan solusinya,” jelasnya.
Dari hasil perhitungan internal, kebutuhan anggaran untuk membiayai tenaga tersebut mencapai sekitar Rp7 miliar.
“Saat ini kami masih terus berdiskusi dengan pemda untuk mencarikan solusi pembiayaan,” tambahnya.
Secara total, RSUD Raja Tombolotutu memiliki 11 dokter spesialis dan 4 dokter umum. Namun kebutuhan paling mendesak tetap dokter anak, karena tanpa spesialis tersebut sejumlah layanan tidak bisa optimal, termasuk klaim BPJS untuk persalinan.
“Untuk dokter dasar sudah ada, seperti bedah, penyakit dalam, dan obgyn. Tinggal dokter anak yang belum ada. Kalau tidak ada dokter anak, pelayanan BPJS untuk ibu melahirkan tidak bisa diklaim,” tegas Rum.
Selain dokter anak, rumah sakit juga membutuhkan tambahan sekitar delapan perawat. Meski pelamar sudah tersedia, kendala kembali pada ketersediaan anggaran.
Di sisi pendapatan, RSUD Raja Tombolotutu mencatat PAD sekitar Rp16 miliar tahun lalu. Tahun ini target dinaikkan menjadi Rp20 miliar, namun pencapaian target itu sangat bergantung pada kelengkapan SDM.
“Untuk mencapai Rp20 miliar kami harus punya dokter spesialis anak. Tapi kami belum optimistis, karena sudah masuk bulan kedua tahun ini dan dokter anak belum ada,” katanya.
Untuk sementara, manajemen tidak terlalu fokus pada pembangunan fasilitas baru dan memilih memaksimalkan sarana yang ada.
“Fasilitas kalau lengkap tapi tidak ada SDM, tidak ada gunanya. Pengalaman sejak 2013, banyak alat kesehatan tidak terpakai sampai rusak karena tidak ada dokternya,” ungkap Rum.
Ia menambahkan, kebijakan pengurangan anggaran dari pemerintah pusat ke daerah turut memengaruhi kemampuan pengembangan rumah sakit. Karena itu, pihaknya memilih memprioritaskan pemenuhan SDM terlebih dahulu, baru kemudian pengadaan alat kesehatan mengikuti.
“Target Rp20 miliar tetap kami kejar, tapi fokus kami pengembangan SDM dulu. Kami berharap pemda bisa membantu, apalagi rumah sakit ini berada di desa sejalan dengan program bupati membangun dari desa,” pungkasnya.
Laporan: Iskandar Miu









