Miliaran Anggaran Terbuang, 25 Unit Huntara di Torue Tidak Dihuni

oleh -1431 Dilihat
oleh
Sebanyak 25 Unit Bangunan Hunian sementara (Huntara) Pasca Bencana di Desa Torue telah mengalami kerusakan dan terkesan buang-buang anggaran. Fasilitas seperti air dan lampu penerangan menjadi kendala tidak dihuninya huntara tersebut. (Foto: Tommy Noho)

PARIMO, KONTEKS SULAWESI – Sebanyak 25 Unit Bangunan Hunian sementara (Huntara) Pasca Bencana di Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi tengah tidak berguna lagi. Pasalnya, selain tidak dihuni, bangunan tersebut justru telah mengalami kerusakan dan terkesan buang-buang anggaran.

Pada Februari 2023 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah menyerahkan 52 Unit Huntara pasca bencana banjir yang diserahkan langsung oleh Kepala Pelaksana Drs. Arfan, M.Si.

Huntara yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 52 unit dan tersebar di permukiman masyarakat sebanyak 27 unit dan 25 unit lainnya di bangun di pesisir pantai Pasigi, Desa Torue.

Baca Juga:  Matangkan RPJMD Parigi Moutong, Bupati Ajak Masyarakat Beri Masukan

“Jadi tanggung jawab kami dari provinsi sudah selesai membangun fisiknya, nanti kelanjutannya Pemda Kabupaten Parigi Moutong diantaranya sambungan Air dan listrik dan fasilitas pendukung lainnya,” Kata Arfan. Kamis (02/02/2023) lalu.

Saat ini 25 unit bangunan Huntara tersebut justru dikeluhkan warga, pasalnya, selain diselimuti rumput, tiang pondasi bangunan tersebut mulai keropos.

Ahlidin, warga desa torue yang ditemui sejumlah media mengatakan, memang selama diserahkannya bangunan huntara tersebut tidak ada warga yang menempatinya. Dengan alasan tidak ada air dan lampu penerangan.

“Ada 25 unit huntara di pantai Pasigi itu tidak dihuni, justru yang mendapatkan bantuan itu hanya menumpang di rumah keluarganya hingga saat ini,” ungkap Ahlidin beberapa lalu.

Baca Juga:  Begini Tanggapan Asisten II Usai Mendengar Paparan Visi Misi Paslon

Kata dia, saat diundang masyarakat, pihaknya keberatan untuk tinggal di lokasi tersebut karena fasilitas seperti air dan lampu penerangan tidak ada.

“Sejak awal hingga diserahkan bangunan Huntara itu, sama sekali tidak pernah ditinggali, justru sudah banyak bangunannya yang mulai rusak,” pungkasnya.

Laporan: Tommy Noho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *