PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) kembali mengingatkan dan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menyusul merebaknya kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar, Bupati Parigi Moutong (Parimo) Erwin Burase bersama Wakil Bupati Abdul Sahid turun langsung ke kantor kecamatan Ampibabo untuk menegaskan langkah mitigasi sejak dini, sebuah upaya yang dilakukan setelah kebakaran terlanjur meluas di sejumlah wilayah sebelumnya.
Dalam kunjungannya ke Kecamatan Ampibabo, ia mengundang 19 Kepala Desa untuk memastikan masnyarakatnya untuk tidak membakar sampah di setiap kebun milik warganya.
Bupati Parigi Moutong Erwin Burase mengatakan, kunjungan ke kantor kecamatan merupakan tindak lanjut dari surat edaran yang telah lebih dulu disampaikan kepada pemerintah desa dan masyarakat. Langkah itu, kata dia, dimaksudkan untuk mempertegas pentingnya sosialisasi pencegahan kebakaran.
“Kami turun ke kantor camat untuk menghimbau masyarakat. Surat sudah diedarkan, sekarang kami pertegas lagi bahwa sosialisasi ini penting, untuk mengantisipasi kejadian yang sudah terjadi di kecamatan tetangga,” kata Erwin.
Menurut Erwin, mitigasi perlu dilakukan sebelum kebakaran terjadi agar masyarakat tidak panik dan mengetahui langkah yang harus diambil ketika muncul titik api.
“Kalau seandainya terjadi, masyarakat sudah siap. Sebelum terjadi, kita mitigasi sejak dini,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjut Erwin, telah memerintahkan para kepala desa agar aktif mengingatkan warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan, sekaligus memantau wilayah masing-masing secara berkala.
“Kami perintahkan kepala desa untuk memberitahu warganya agar tidak membakar, menjaga wilayahnya, dan memantau setiap saat jika muncul titik api,” katanya.
Selain larangan membakar, Erwin menekankan pentingnya kesiapan sumber air sebagai bagian dari mitigasi awal. Pemerintah desa diminta memastikan ketersediaan titik-titik air yang dapat dimanfaatkan jika kebakaran terjadi.
“Sumber-sumber air harus diperhitungkan. Kalau terjadi kebakaran, sudah ada titik air yang bisa dipasangi alkon supaya mudah menarik air,” ucapnya.
Erwin mengakui, pengalaman kebakaran sebelumnya menunjukkan lemahnya antisipasi awal. Api terlanjur meluas sehingga sulit dikendalikan, terlebih dengan kondisi geografis Parigi Moutong yang menyulitkan akses kendaraan pemadam.
“Antisipasi awal penting, supaya tidak seperti kemarin. Sudah terlanjur meluas sehingga susah mengatasinya,” katanya.
Dengan keterbatasan akses tersebut, penanganan kebakaran di Parigi Moutong masih sangat bergantung pada upaya manual dan keterlibatan masyarakat.
“Wilayah geografis kita, pemadam susah masuk. Kita harus manual, dan ini butuh dukungan penuh dari masyarakat,” ujar Erwin.
Ia mencontohkan Desa Towera sebagai wilayah yang berhasil menekan potensi kebakaran karena respons cepat masyarakat dan pemerintah desa.
“Seperti di Desa Towera, cepat diantisipasi sehingga tidak meluas,” katanya.
Karena itu, masyarakat kembali dihimbau untuk menyiapkan peralatan sederhana, termasuk tangki air manual, sebagai langkah awal penanganan kebakaran.
“Kalau semua masyarakat turun, walaupun kecil, itu sangat berarti,” tutup Erwin.
Laporan: Basrul Idrus








