PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Suara dentuman kembali memecah ketenangan laut desa Sigenti Selatan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Sulawesi Tengah. Para nelayan di Sigenti dan Sigenti Selatan resah. Hasil tangkapan menipis, terumbu karang rusak, sementara pelaku pengeboman ikan terus beraksi tanpa gentar. Bagi nelayan, laut yang dulu menjadi tumpuan hidup kini mulai kehilangan nyawanya.
Di sela aktivitas melaut, para nelayan mengaku sering pulang hampir tanpa hasil.
“Kami hampir pulang dengan tangan kosong. Laut seperti sudah rusak,” kata seorang nelayan kepada media ini.
Penelusuran di lapangan menunjukkan pola yang semakin terang. Aksi pengeboman disebut terjadi rutin setiap Senin pagi dan Jumat siang, tepat ketika warga sedang melaksanakan salat Jumat.
“Lokasinya tak jauh dari bibir pantai, di area tubir Phatu Lompa,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Pelaku diduga berasal dari luar desa. Modusnya terbilang licik. Mereka meledakkan bom, kabur cepat dengan perahu, lalu kembali lagi menyelam untuk mengambil ikan mati. Ada pula yang berpura-pura mengejar pelaku jika terlihat warga, sebelum kembali mengambil hasil bom.
Masyarakat meminta Satgas Ilegal Fishing turun segera. Kerusakan tak hanya menyasar biota laut, tetapi juga menghancurkan terumbu karang yang menjadi rumah pembiakan ikan.
“Ini bukan sekadar soal ikan hari ini, tapi soal masa depan laut kami,” pungkas seorang tokoh nelayan.
Kapolsubsektor Tinombo Selatan, IPDA Eko Maryanto, saat dikonfirmasi media ini Sabtu (15/11/2025) di Ruang kerjanya, membenarkan laporan adanya aktivitas pengeboman di wilayah Sigenti Selatan pada waktu salat Jumat. Ia mengaku kecolongan lantaran fokus sosialisasi selama ini tertuju pada dua desa, Poli dan Sigolang, sesuai arahan wilayah rawan sebelumnya.
“Kami hanya fokus di dua desa tersebut. Ternyata ada laporan dari anggota bahwa aksi pengeboman justru terjadi di antara Sigenti Selatan dan Maninili Utara,” ujarnya.
Menyikapi laporan terbaru ini, IPDA Eko menegaskan pihaknya akan mengambil langkah cepat dan tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi para pelaku. Ia memastikan penindakan akan dilakukan bila pelaku ditemukan di lapangan.
Pengeboman ikan dikenal sebagai praktik destruktif yang menimbulkan dampak luas, mulai dari rusaknya ekosistem, menurunnya populasi ikan, hingga tercecernya mata pencaharian nelayan. Gelombang kejut bom membunuh seluruh biota dalam radius ledakan, termasuk benih ikan yang penting untuk regenerasi populasi.
“Kerusakan terumbu karang menyebabkan nelayan semakin sulit mendapatkan ikan. Jika praktik ini terus dibiarkan, bukan hanya laut yang mati, tetapi juga ekonomi masyarakat pesisir Teluk Tomini,” pungkasnya.
Laporan: Tommy Noho











