PALU, KONTEKS SULAWESI — Gempa bumi berkekuatan 6,7 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng), Selasa (16/6/2026), tidak hanya menyisakan duka dan kerusakan di sejumlah wilayah, tetapi juga menghadirkan gelombang solidaritas dari para alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad) untuk membantu sesama yang terdampak bencana.
Peristiwa gempa yang menyebabkan satu orang meninggal dunia, puluhan warga mengalami luka-luka, serta kerusakan bangunan di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), dan Kabupaten Poso itu turut menimpa salah seorang alumni Fakultas Hukum Untad, M. Sunandar Adnan.
Ketua Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Hukum Untad, Sirajuddin Ramly, mengatakan Sunandar yang saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, menjadi salah satu korban terdampak dengan tingkat kerusakan rumah yang sangat parah.
“Rumah yang ditempati Saudara M. Sunandar Adnan mengalami kerusakan sekitar 95 persen akibat gempa yang terjadi di Kabupaten Sigi,” ujar Sirajuddin.
Mendengar kabar tersebut, para alumni Fakultas Hukum Untad bergerak cepat menggalang bantuan secara spontan melalui berbagai grup WhatsApp alumni. Aksi solidaritas itu dilakukan untuk membantu meringankan beban yang dialami rekan mereka yang terdampak bencana.
Menurut Sirajuddin, donasi mengalir dari berbagai daerah di Indonesia. Para penyumbang berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari jaksa, hakim, polisi, advokat, aparatur sipil negara (ASN), pengusaha, hingga profesi lainnya yang tergabung dalam jaringan alumni Fakultas Hukum Untad.
Tidak hanya ditujukan kepada sesama alumni, bantuan yang terkumpul juga disalurkan kepada masyarakat yang terdampak gempa di berbagai wilayah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan daerah lainnya yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Aksi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa ikatan persaudaraan alumni tidak berhenti setelah meninggalkan bangku kuliah, melainkan tetap terjaga dan hadir saat salah satu anggotanya menghadapi musibah.
“Solidaritas ini lahir dari rasa persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban para korban dan menjadi penguat bagi mereka untuk bangkit kembali pascabencana,” pungkas Sirajuddin.
Laporan: Tommy Noho








