PARIMO, KONTEKS SULAWESI — Dampak gempa bumi berkekuatan 6,7 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng), Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 11.27 WITA, mulai terpetakan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mencatat sedikitnya 11 unit rumah warga mengalami kerusakan di Kecamatan Parigi Selatan dan Torue.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong yang diterima pukul 11.35 WITA, gempa berpusat pada koordinat 1,04 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah dan menyebabkan kerusakan pada bangunan rumah warga.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Kabupaten Parigi Moutong, Rivai, mengatakan hasil asesmen sementara menunjukkan kerusakan tersebar di beberapa desa terdampak.
Di Dusun IV Desa Boyantongo, Kecamatan Parigi Selatan, tercatat satu rumah milik satu kepala keluarga terdampak. Sementara di Dusun V Desa Tolai, Kecamatan Torue, satu rumah lainnya mengalami kerusakan dan dihuni satu kepala keluarga dengan seorang warga lanjut usia (lansia).
Kerusakan paling banyak terjadi di Desa Torue. Di Dusun I terdapat satu rumah terdampak, Dusun II sebanyak lima rumah, Dusun III dua rumah, dan Dusun V satu rumah. Secara keseluruhan, BPBD mencatat total 11 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.
Meski menyebabkan kerusakan pada bangunan warga, hingga laporan ini diterbitkan belum terdapat laporan korban meninggal dunia maupun korban luka-luka. Selain itu, tidak ditemukan dampak terhadap fasilitas umum maupun sektor perkebunan dan pertanian.
Saat ini BPBD Parigi Moutong bersama aparat desa dan Tim Reaksi Cepat (TRC) terus melakukan koordinasi serta kaji cepat di lokasi terdampak untuk memastikan kondisi masyarakat dan memperbarui data kerusakan.
Sejumlah kebutuhan mendesak mulai diinventarisasi, di antaranya bantuan logistik kebencanaan dan terpal untuk menutup bagian rumah yang rusak agar warga tetap terlindungi dari cuaca.
Hingga Selasa siang, sebagian warga masih memilih bertahan di luar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan. Aktivitas gempa susulan (aftershock) juga masih dirasakan di sejumlah titik sehingga kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan.
“Petugas masih terus melakukan pendataan dan pemantauan di lapangan. Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG. Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana ini,” pungkas Rivai.
Sumber: Pusdalops BPBD Parimo








