Disdikbud Parimo Uji Coba Full Day School

oleh -1251 Dilihat
oleh
Keterangan Foto: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Sunarti, memberikan keterangan kepada wartawan terkait uji coba penerapan sistem full day school di sejumlah sekolah, Selasa (20/1/2026). Kebijakan ini masih dalam tahap evaluasi dan menunggu hasil uji coba serta persetujuan kepala daerah sebelum diberlakukan secara menyeluruh. Foto: Basrul Idrus
Keterangan Foto: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Sunarti, memberikan keterangan kepada wartawan terkait uji coba penerapan sistem full day school di sejumlah sekolah, Selasa (20/1/2026). Kebijakan ini masih dalam tahap evaluasi dan menunggu hasil uji coba serta persetujuan kepala daerah sebelum diberlakukan secara menyeluruh. Foto: Basrul Idrus

PARIMO, KONTEKS SULAWESI Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mulai menguji coba penerapan sistem pembelajaran lima hari atau full day school di sejumlah sekolah. Kebijakan ini digodok menyusul masukan orang tua siswa, khususnya kalangan pekerja kantoran, yang menginginkan kegiatan belajar mengajar hanya berlangsung hingga Jumat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong, Sunarti, mengatakan aspirasi tersebut menguat karena sebagian besar orang tua bekerja hingga Jumat dan memanfaatkan hari Sabtu untuk kegiatan keluarga. Sementara, anak-anak mereka masih harus bersekolah.

“Rata-rata orang tua yang bekerja kantoran itu hanya sampai hari Jumat. Hari Sabtu biasanya mereka gunakan untuk berkegiatan bersama keluarga, tapi anaknya masih sekolah. Itu yang menjadi masukan dari masyarakat,” ujar Sunarti kepada Konteks Sulawesi, Selasa, 20 Januari 2026.

Baca Juga:  DPRD Sulteng Kawal PSU Pilkada Parimo, Anggaran Tambahan Disiapkan

Menurut Sunarti, skema full day school bukan tanpa konsekuensi. Penerapan lima hari sekolah akan berdampak pada penambahan jam belajar harian, dari yang semula pulang sekitar pukul 14.00 Wita menjadi pukul 17.00 Wita.

“Kalau full day diterapkan, jam pulang anak-anak biasa pukul dua atau tiga sore, nanti akan pulang pukul lima sore. Ini tentu berimplikasi pada kesiapan siswa, termasuk kebutuhan makan siang dan kondisi fisik mereka,” kata Sunarti.

Ia menjelaskan, uji coba dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan, baik dari sisi siswa, orang tua, maupun tenaga pendidik. Program makan bergizi (MBG) dinilai bisa menjadi penopang agar siswa tetap nyaman belajar lebih lama di sekolah.

Baca Juga:  Kasus HIV/AIDS di Sulteng Capai 85 Persen Pada 2024

“Anaknya bisa lebih lama di sekolah karena sudah difasilitasi makan. Tapi yang juga harus kami pastikan adalah kesiapan gurunya. Semua ini harus dipersiapkan dengan matang,” ujarnya.

Saat ini, kata Sunarti, sejumlah kecamatan telah melaporkan kesiapan sekolah-sekolah mereka untuk menjalankan full day school. Namun, evaluasi tetap dilakukan guna memetakan sekolah yang belum siap, baik dari sisi sarana prasarana maupun sumber daya manusia.

“Kami evaluasi berapa sekolah yang tidak ada kendala dan berapa yang masih ada kendala. Kalau rata-rata sudah siap, barulah kami mengajukan izin kepada Bupati sebagai penanggung jawab di daerah,” katanya.

Baca Juga:  Paslon BERSINAR Terus Raih Dukungan Masyarakat Jelang Pilkada

Sunarti menegaskan, penerapan full day school secara menyeluruh masih menunggu hasil uji coba dan persetujuan kepala daerah. Selain itu, persetujuan orang tua siswa tetap menjadi syarat utama sebelum kebijakan ini diberlakukan secara wajib melalui surat edaran.

“Kalau tidak ada kendala dari guru, orang tua, dan fasilitasnya memungkinkan, insya Allah akan dibuat edaran untuk memberlakukan proses belajar mengajar lima hari, Senin sampai Jumat, di Parigi Moutong,” pungkas Sunarti.

Terkait sosialisasi kebijakan ini, Sunarti menyebutkan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah kecamatan, kepala satuan pendidikan, serta komite sekolah yang dikawal oleh koordinator wilayah (Korwil), untuk menyampaikan rencana tersebut kepada para orang tua siswa.

Laporan: Tommy Noho